Mengusir Macet ala Stockholm

Gelap datang cepat di Stockholm saat musim dingin. Saat itu pukul 4 sore. Di sore yang menggigil itu, Gunnar Johansson berdiri di samping sebuah jalan raya. Tubuhnya terbalut mantel, tangannya terbungkus di sakunya. Ia memandangi mobil-mobil yang berpacu tanpa kemacetan. Di sisi jalan ada dua kamera yang “mencatat” pergerakan mobil-mobil itu. Sebuah pelajaran penting buat Jakarta sedang ditorehkan saat itu.

Johansson bukanlah orang spesial. Dia hanya seorang ekonom ahli transportasi. Tapi warga Stockholm kadang menjulukinya sebagai tukang sulap karena ia telah membuat kemacetan hilang dari kota itu.

Kalau warga Jakarta datang ke Stockholm pada 2003, mereka pasti kaget. Kota itu dibekap kemacetan. Udara juga dikotori oleh asap mobil-mobil pribadi yang menderu-deru. Pemerintah setempat puyeng mengatasi penyakit kronis itu. Mereka lalu membentangkan rencana: kemacetan pada jam sibuk harus diturunkan 10 sampai 15 persen. Caranya, mereka menarik tarif khusus untuk mobil yang melintas pada jam tertentu dan di jalan-jalan protokol. Cara ini menjadi obat mujarab untuk Kota Singapura dan London.

Tapi Stockholm menerapkan strategi ini dengan memasang kamera. Kamera? Di setiap jalan ada dua kamera pengintai yang dipasang berhadapan. Johansson bergabung dengan IBM setelah PricewaterhouseCoopers diakuisisi oleh perusahaan Big Blue itu. Dialah yang memimpin IBM memenangi proposal untuk menggebah kemacetan.

Di banyak kota, “pajak jalan” ini, selain mengurangi kemacetan, digunakan untuk menutup ongkos pembuatan sistem. Tapi, di Stockholm, Johansson tak menggunakan itu sebagai tujuan. “Kami cuma ingin membuat sistem transportasi yang ramah,” kata lelaki yang telah diundang berkeliling ke berbagai kota untuk mempresentasikan proyeknya yang berjuluk “Planet Pintar” itu.

Maka, pada 2006 dimulailah proyek yang bagi warga Jakarta dianggap muskil tersebut. Dia menggunakan teknologi komputer untuk membangun proyek ini. Yang dilakukan adalah mengundang 18 subkontraktor memasang kamera dan sistem. Agar tak menghadapi serangan protes dari publik, Johansson meminta pemerintah memberikan jaminan sementara bahwa tak ada referendum soal sistem itu sampai sistem tersebut bisa mengawasi 99 persen kendaraan yang melintas di jalan yang sudah ditentukan.

Johansson tak mau memakai peranti GPS untuk melacak mobil karena kelewat mahal dan tak mungkin memaksa orang mau memasang alat itu pada mobil. Pilihannya jatuh pada teknologi OCR (Optical Character Recognition). Artinya, alat yang yang bisa membaca huruf dari gambar. Ini bukan teknologi baru, sebenarnya. Namun, bayangkan, mengidentifikasi foto dari 500 ribu kendaraan yang melintas setiap hari di Stockholm dengan kecepatan hingga 100 kilometer per jam jelas bukan hal gampang. “Hasil tes pertama kami juga cuma 60 persen akurat,” kata Johansson. “Kami berpikir, mungkin proyek ini akan gagal.”

Untunglah, tim arsitek teknik proyek itu kemudian menelepon pusat riset IBM di Haifa, Israel. Mereka punya software pengenal huruf atau OCR yang baru. Caranya, memasang dua kamera berlawanan. Satu untuk membaca pelat nomor di bagian depan mobil. Satu lagi membaca pelat nomor bagian belakang. Eureka! Hasilnya, 99 persen akurat.

Data dari mobil-mobil yang lewat itu diolah di Kopenhagen, Denmark. Pengemudi mobil tiap bulan akan menerima tagihan yang dikirim lewat pos yang menjelaskan berapa kali dia lewat jalan protokol dan harus bayar berapa. Tarif jalan di Stockholm Rp 10-30 ribu, tergantung macet-tidaknya lalu lintas. Semakin macet, tarif semakin mahal.

Untuk memuluskan proyek itu, Johansson juga bersiap-siap menghadapi gugatan. Dia menyewa 40 pengacara dan menyediakan layanan konsumen untuk menangani keluhan. Tapi tak satu pun telepon komplain datang.

Tentu saja tujuan utama proyek yang berbasis komputer ini bukan mendenda pengemudi, melainkan menurunkan tingkat kemacetan. Total kemacetan turun 35 persen. Polusi udara juga turun 14 persen. Jalan menjadi ramah bagi pejalan kaki, bus-bus bisa menyelesaikan rutenya dengan lebih cepat, dan pemerintah setempat terpaksa menulis ulang jadwal bus! Semua berkat sentuhan teknologi, bayangkan!

Stockholm benar-benar menjadi kota yang berbeda berkat kamera dan software OCR. Untuk proyek itu, mereka menghabiskan dana US$ 400 juta (Rp 4 triliun). “Buat sebagian orang, ini ongkos yang mahal,” kata Gunnar Soderholm, Direktur Lingkungan Stockholm. Tapi itu harga yang layak untuk investasi lingkungan yang lebih baik.

Bagaimana Jakarta? Mungkinkah Jakarta membangun sistem seperti itu? Soal teknologi, Jakarta sebenarnya tak kalah. Software OCR sebenarnya juga dipakai di Jakarta. Komisi Pemilihan Umum memakainya dalam pemilu lalu. Tapi gagal total. Hasil pemilu tak bisa ditampilkan dengan cepat. Padahal dana yang dihabiskan ratusan miliaran rupiah.

Soal dana juga tak jadi masalah sebenarnya. Pada 2007 saja subsidi untuk proyek busway sekitar Rp 203 miliar. Lalu pada 2008 subsidinya sekitar Rp 500 miliar. Jadi tak susah kan mengumpulkan uang Rp 4 triliun? Subsidi delapan tahun cukup untuk biaya mengusir kendaraan dari jalan Jakarta. Sekarang saja busway sudah berjalan lebih dari empat tahun, berapa banyak subsidinya?

Pak Fauzi Bowo, dengan segala hormat, pasti sudah tahu pengalaman Kota Stockholm ini. Tapi mengapa Jakarta masih saja macet? Kota ini malah membangun proyek tanpa perencanaan matang–busway, monorel yang tinggal tiang, juga impian kereta MRT (mass rapid transportation), yang akan dibangun Lebak Bulus-Kota. Ke mana, ya, ahlinya?

Orang IBM pun tahu bahwa mengurangi tingkat kemacetan itu tak bisa dengan cara membangun lebih banyak jalan atau jalan tol. Tapi itu adalah soal memberikan pilihan dan informasi. (*)

3 responses to “Mengusir Macet ala Stockholm

  1. Semoga para pemimpin di Indonesia dapat belajar banyak dari cara kota2 besar lain (seperti Stockholm) untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Saya benar-benar memimpikan kota Jakarta yang bebas polusi dan lalu lintasnya lancar. Thanks for sharing the post!

  2. wah keren banget, , harusnya mah 4 triliun sekutil doang,
    6,7 T aja gak masalah kok ya?hihihi

    Btw blog nya top markotob

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s