Energi Kreatif Bom Marriott

Sepotong bom tak cuma membawa pesan pembunuhan. Bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton bisa juga dilihat dengan “kacamata” positif: betapa kreatif para pembuatnya. Anggap saja bom ini sama dengan bom Marriott pada 2003. Para pembuatnya bisa menghasilkan energi yang dahsyat dari baterai 9 volt dan beberapa bubuk rahasia. Teroris Amerika mungkin butuh C4 untuk membikin ledakan. Teroris Indonesia tidak. Hanya bermodal bubuk belerang, bubuk hitam misterius racikan khas Jamaah Islamiyah sebagai pemicu, lalu gotri dan mur yang dilekatkan dengan jarak yang sama, mereka membuat bom yang bisa mengguncang dunia itu.

Mereka mempelajari itu bukan di gedung ber-AC yang mewah seperti tim Laboratorium Forensik Kepolisian Republik Indonesia belajar di kantor FBI di Amerika Serikat. Mereka belajar di kamar-kamar kontrakan sempit dan sekadarnya, dari buku-buku diktat tulisan para senior mereka.

Betapa sayangnya energi kreatif para pembuat bom itu meletup pada tempat dan ideologi yang keliru. Andai energi tersebut disalurkan ke temuan-temuan bermanfaat, seperti membikin cip ponsel, betapa dahsyatnya. Jumlah pelanggan seluler di Indonesia pada pertengahan tahun lalu sudah di atas 120 juta. Angka itu terbilang terbesar nomor 6 dunia. Bayangkan, bila mereka bisa membuat cip separuh saja dari jumlah itu, produsen ponsel seperti Nokia, Motorola, dan Apple mungkin akan “menyembah-nyembah” mereka. Selama ini hampir semua ponsel di Indonesia adalah produk impor. Tak ada satu pun komponen bikinan lokal. Jadi dari tukang becak, tukang sayur, sopir, hingga bos-bos perusahaan raksasa semua menyumbangkan duitnya untuk ponsel impor.

Andai saja para pengebom itu mau mengalihkan energi amarah dan kesumat itu ke energi kreatif, Indonesia–juga orang Islam yang ada di dalamnya–tak akan terpuruk seperti ini. Mereka bisa menjadi pengendali dunia dalam kadar-kadar tertentu.

Itulah pelajaran yang dipetik dari revolusi komputer. Mari kembali ke 1982, saat fajar revolusi komputer tengah menyingsing di Amerika Serikat. Kala itu Bill Gates dan Steve Jobs sedang membangun kerajaannya, Microsoft dan Apple Computer. Banyak ilmuwan dunia “marah” karena kalah oleh ilmuwan Amerika Serikat.

Tapi ada segelintir ilmuwan Inggris yang menyalurkan energi kemarahan itu dengan mendirikan pabrik prosesor kecil bernama ARM. Mereka tak melawan siapa-siapa, bahkan juga raja prosesor Intel. Mereka hanya ingin ikut terjun dalam revolusi komputer.

Ilmuwan itu mencoba-coba membikin mesin ketik berbasis komputer, yang disebut BBC Micro. Saat itu produsennya masih bernama Acorn Computer. Dari sinilah kemudian mereka berani memasok prosesor untuk komputer Apple II. Mereka cuma punya target menjual 12 ribu, tapi malah terjual 1,5 juta unit.

Acorn kemudian dikenal sebagai Advanced RISC Machine atau ARM. Mereka tak bermimpi menguasai semua lini komputer. Mereka cuma menjual prosesor. Pada 1998, 16 tahun setelah langkah dijejakkan, mereka mencetak hit lagi saat ponsel Nokia “sejuta umat” laris di mana-mana.
Nama ARM mungkin tak banyak dikenal. Itu tak jadi masalah. Mereka juga membolehkan rancangan prosesor itu dibeli lisensinya oleh perusahaan ponsel seperti Samsung. Yang penting bagi mereka adalah ikut berperang dalam revolusi teknologi komputer dan ponsel. Nama ARM kembali melambung ke langit setelah pada 2008 mereka mencatatkan keberhasilan luar biasa bersama iPhone, yang menjadi fenomena dunia.

Energi “kemarahan” yang luar biasa, bukan?

One response to “Energi Kreatif Bom Marriott

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s