Autis

Sayidati kerap tak habis pikir mengapa suaminya begitu keranjingan Facebook atau Twitter, dan Yahoo! Messenger. Ke mana pun sang suami pergi, dia tak pernah lepas dari situs dan peranti social networks itu. Ke kafe, kantor, bahkan saat berlebaran di rumah paman mereka, jemari kekasihnya itu tak pernah lepas dari BlackBerry. Matanya juga selalu melirik pesan-pesan baru yang masuk.

“Persis orang autis,” kata Sayidati kesal. Dia sudah bosan mengingatkan lelaki itu. Toh, sang suami seperti tak pernah mendengar keluhan soal autisme yang sudah belasan kali dilontarkan.

Sayidati dongkol. “Apa gunanya membangun relasi lewat Facebook, Twitter, Yahoo! Messenger kalau ternyata peranti itu justru menjauhkan orang dari lingkungan?”

Bukan cuma Sayidati yang mengeluhkan efek samping situs-situs jejaring sosial. Banyak bos di Jakarta yang melontarkan kegusaran serupa. “Facebook itu cuma membuat produktivitas jeblok. Dia mengisap waktu kerja menjadi sia-sia,” kata mereka. Saking kesalnya, bahkan ada perusahaan di Jakarta yang sengaja memblokir situs-situs pertemanan tersebut.

Seburuk itukah efek yang dihadirkan oleh Facebook, Twitter, atau Yahoo! Messenger?

Beberapa “fesbukwan” dan “fesbukwati”–begitu sebagian orang Indonesia menyebut orang-orang yang tergila-gila dengan Facebook–jelas-jelas menolak pandangan miring ini. “Facebook adalah tempat untuk membangun personal branding,” kata salah seorang anggota Facebook asal Jakarta. “Dia tempat membangun citra seseorang sekaligus lapak berjualan.” Itu sebabnya, di Indonesia kini para politikus rajin turun ke Facebook.

Lihatlah para calon presiden, seperti Rizal Mallarangeng, Soetrisno Bachir dari Partai Amanat Nasional, Fadjroel Rahman, dan Wiranto, semua meramaikan situs ciptaan Mark Zuckerberg itu. Apa yang mereka cari? Tentu saja popularitas seperti Barack Obama, yang memanen sukses via Facebook.

Sejumlah direktur muda di Lembah Silikon tentu saja amat memanfaatkan situs-situs jejaring sosial tersebut. Bukan hanya lelaki, para bos perempuan pun keranjingan berbagai situs ini.

Anne Wojcicki adalah salah satu contohnya. Pendiri situs 23andme itu kerap mengobrol lewat situs jejaring sosial. Ia adalah istri pendiri Google, Sergey Brin. Dia mengatur jadwal kerja pembantunya lewat fitur kalender di Google. Untuk urusan pekerjaan, seperti bagaimana cara menumbuhkan perusahaan dengan cepat, dia bertanya kepada teman daringnya (online), Sheryl Sandberg. Sandberg adalah bos di Facebook dan punya 1.114 teman daring.

Wojcicki pun merasa tertolong dengan adanya situs-situs itu. Dari sana dia mendapat petuah berharga. Contohnya, “Jangan pernah memberikan hadiah kue tar kepada karyawan yang berulang tahun bila jumlah karyawan perusahaanmu 1.000 orang. Itu akan sia-sia,” kata Sandberg.

Wojcicki atau Sandberg, perempuan-perempuan digdaya di Lembah Silikon itu, percaya bahwa semakin luas jaringan teman, seseorang akan semakin bernilai tinggi. Sandberg, yang dulu bekerja di Google, sudah membuktikannya. Karena luasnya jaringan, namanya dikenal oleh Mark Zuckerberg, biliuner muda pemilik Facebook.

Suatu ketika di sebuah pesta di rumah mantan bos Yahoo, Dan Rosenzweigh, dia bersua dengan Zuckerberg. Mereka mengobrol berdua dan tiba-tiba perbincangan mereka menukik pada soal bagaimana membesarkan perusahaan. “Dia sangat pintar. Sangat substantif.” Obrolan itu berlanjut ke selusinan makan malam lainnya. Ujungnya, Sandberg, yang jelita dengan rambut hitamnya, pindah dari Google dan menjadi orang nomor 2 di Facebook. Wow!

2 responses to “Autis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s