Lelaki di Cut Mutia

Mestinya saat itu bisa menjadi acara buka puasa yang manis dan menentramkan. Bayangkan, betapa nikmatnya: duduk sendirian di sudut restoran Izzi Pizza  di Kuningan, Jakarta. Meresapi detik-detik berganti, menyesapi keremangan cahaya di sana. Menunggu senja luruh, dengan setumpuk kenangan sore, dan sepiring caesar salad atau soup of the day dan selapis tipis pizza Italia. “Itu bisa menjadi the best breakfast of the month-ku” pikirku.

Mestinya saat itu juga bisa acara buka puasa yang menenangkan jiwa. Bayangkan, betapa syahdunya duduk merenung sendirian di restoran bergaya retro di Cikini, Vietopia. Menanti magrib tiba dengan semangkuk pho Vietnam, nasi goreng nanas, atau ayam bumbu sereh khas negeri itu.

Tapi impian menyantap makanan enak di dua restoran itu tiba-tiba surut. Entah mengapa, aku terus meluncurkan mobil melewati restoran itu dan memilih berlabuh di depan Masjid Cut Mutia, Menteng. Jauh-jauh dari Velbak, entah apa yang membelokkan aku menuju masjid ini.

Di sana, duduk dan memandangi para pemulung yang duduk rapi menunggu pembagian jatah buka puasa di masjid adalah hal yang menghiburku. Seperti ada magnet pada poemandangan yang biasa, sebenarnya. Tapi hatiku tersentuh. Apalagi beberapa menit kemudian saaat mereka berebut jatah makanan. “Jangan menyerobot.” “Aku sudah antre dari tadi,” kata seorang ibu yang menggendong anaknya yang ingusan.

Hanya beberapa menit, jatah makanan yang dibagikan ludes. Beberapa orang kebingungan mencari panitia pembagi makanan. Rasa kecewa, marah, seperti teraduk dan terlukis di wajah mereka. Belum sempat kemarahan itu terwujud, azan berkumandang. Orang-orang yang malang itu bubar. Salah seorang di antarannya, seorang lelaki tua berjalan gontai karena tak dapat jatah makan.

“Payah nih panitia,” katanya sambil mengempaskan pantatnya di sampingku. Lelaki tua dengan peci lusuh, dan baju koko yang tak putih lagi. “Saya kan wudhu dulu, malah saya nggak kebagian makanan buka puasa.”

“Duh, Tuhan, begitu susahnya mereka berbuka puasa,” kataku dalam hati.

“Kemarin, di Masjid Bimantara jauh lebih tertib,” lelaki tua itu menceritakan rekor “berburu” buka puasanya.

Mulutku kelu. Sedih rasanya melihat orang tertib, rajin salat, tapi malah tak kebagian makanan buka puasa. Aku pun menyodorkan makanan berbukaku, tahu goreng, singkong goreng yang cuma tiga potong. “Habiskan saja Pak,”

Rasanya aku tak sanggup melanjutkan gigitan tahu gorengku. Rasanya , sementara aku juga tak akan “sanggup” berbuka sedikit enak di mal-mal wangi seperti kebiasaanku dulu…. membayangkan lelaki itu…

4 responses to “Lelaki di Cut Mutia

  1. salam kenal kembali mas. bayangkan apa yang dilakukan haji syaikhon, betapa berartinya…walau itu jatuh korban. dia berzakat minimal Rp 30 ribu x 5.000 = Rp 15o juta…

    kita mungkin akan sangat susah untuk sekadar mengeluarkan Rp 100 ribu untuk amal. Tapi, Rp 100 ribu untuk dua cangkir cappucino, sushi, bakmi naga, mungkin kita dengan entengnya mengeluarkannya….

    semoga lelaki tua… itu selalu mendapatkan buka yang layak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s