Macan-macan Korea

Kegembiraan selalu berwajah sama. Namun, wajah muram selalu memiliki aroma sendiri-sendiri. Begitu kata pepatah Rusia. Di kantor pusat Motorola, wajah muram itu menjelma dalam kepanikan para petinggi produsen telepon seluler terbesar ketiga di dunia, setelah Nokia dan Samsung, itu.

Penjualan Motorola memang sedang tersengal-sengal. Mereka sudah menjejaki semua lorong segmen pasar ponsel, tapi hasilnya jauh dari harapan. Kepanikan itu pun membuat mereka membajak eksekutif produsen chip ponsel Qualcomm, Sanjay Jha. Kepada dialah Motorola berharap ada sedikit “keajaiban”.

Wajah-wajah harap-harap cemas menanti terobosan baru Jha. Mereka khawatir divisi ponsel Motorola mendatangkan kerugian besar dan posisi Motorola bisa disalip LG, pemain di industri ponsel nomor 4 dunia.

Situasi itu sungguh kontras dengan dua-tiga tahun lalu. Motorola merajai penjualan dengan ponsel tipisnya, Razr. Ponsel itulah yang menyulap laporan keuangan Motorola dari merah menjadi biru.

Kini kejayaan telah berlalu. Motorola memang telah melahirkan varian-varian Razr baru. Ada yang untuk kelas bawah, menengah, ada pula yang ditujukan untuk segmen kelas atas, dengan menggandeng butik-butik ternama, seperti Dolce & Gabbana. Toh, Motorola tetap kewalahan menghadapi serbuan para pemain Korea, yakni Samsung & LG.

Di pasar Amerika Serikat, Motorola boleh melupakan rival berat, yakni Nokia, tapi serbuan Samsung dan LG yang terus menusuk ke berbagai sudut Amerika sungguh sebuah pukulan hook yang telak.

Raja-raja ponsel Korea ini memang tak bisa dianggap remeh. Dulu mereka cuma sebuah noktah tipis, nyaris tak tampak di layar radar industri ponsel raksasa seperti Nokia dan Motorola, juga Ericsson (yang kini bersalin rupa menjadi Sony Ericsson). Kini, serangan mereka benar-benar membuat jantungan para petinggi Motorola.

“Tahun 2007 adalah milik pabrikan Eropa, 2008 adalah milik chaebol (konglomerat) Korea,” kata seorang analis dari Strategy Analytics seperti dikutip BusinessWeek.

Lihat saja, tahun ini, saat industri ponsel cuma tumbuh 14 persen, penjualan LG tumbuh 54 persen dengan mengapalkan 24,4 juta ponsel. Sedangkan Samsung tumbuh 33 persen dengan menjual 46,3 juta ponsel. Sebaliknya, penjualan Motorola tergelincir atau turun 40 persen menjadi 27,4 juta.

Di pasar, para pembeli seperti berbaris untuk membeli ponsel-ponsel LG dan Samsung. Amunisi para macan Korea itu adalah desain cantik dan menu yang inspiratif serta, tentu saja, harga yang murah. Tengoklah siapa yang pertama kali membenamkan kamera 5 megapiksel dalam ponsel? Siapa pula yang pertama kali memakai serat karbon dan tombol sentuh pada ponsel? Macan Korea!

Padahal 10-15 tahun lalu produsen-produsen ponsel Korea itu bukan apa-apa. Bahkan, mungkin, teknologi yang mereka kuasai saat itu tak jauh berbeda dengan PT Inti, perusahaan negara yang dulu terkenal sebagai pembuat ponsel.
Sepuluh tahun telah mengubah mereka. Sepuluh tahun bagi insinyur-insinyur Korea Selatan bisa berarti ribuan teknologi baru yang dapat dipatenkan. Mereka bukan lagi titik-titik yang bisa diabaikan oleh raksasa ponsel Swedia, Ericsson, atau si raja ponsel dunia, Nokia.

Sementara orang-orang Indonesia sibuk bertengkar tentang siapa yang menjadi wali kota, siapa menjadi presiden, partai anu dapat jatah menteri apa atau amplop berapa, insinyur-insinyur Korea bekerja memburu waktu. (published in koran tempo)

2 responses to “Macan-macan Korea

  1. jangan salahkan kenapa orang-orang indonesia berpikir sedemikian, itu disebabkan belum sejahteranya bangsa ini. makanya bangun kesadaran akan cinta produk negeri sendiri yang dimulai dari diri kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s