Merek Tanpa Batas

Arshavin, striker Rusia yang laris diminati pasar InggrisSiapa pemenang sejati Euro 2008 ini?  Spanyol, yang menyodorkan permainan tik-tak dengan satu sentuhan? Bukan. Mereka bukan pemenang sejati, meski di laga final Spanyol membobol 1-0 gawang Jerman

Orang tahu, siapa pun jawaranya, satu atau dua bulan setelah Euro 2008 berakhir, para penggila bola akan segera melupakan mereka. Para penggemar bola itu akan kembali larut dalam liga reguler, seperti Liga Primer Inggris, Lega de Calcio Italia, atau La Liga Spanyol, yang ingar-bingarnya memukau sepanjang tahun.

Bagaimanapun, Jerman dan Spanyol bukanlah merek yang kuat. Mereka tetap saja “pemain pinggiran” dan tak bisa menggeser merek Manchester United, Real Madrid, Chelsea, atau sederetan klub kaya lainnya dari posisi top of mind para pencinta bola dunia. Alhasil, laga Euro 2008 ini cuma etalase untuk memajang para pemain bintang-bintang muda yang bersinar–seperti Luka Modric, Ivan Klasnic, Cristiano Ronaldo, dan Bastian Schweinsteiger. Klub-klub elite Eropa akan segera menubruk para pemain itu untuk menguatkan merek mereka.

Lihatlah, Tottenham Hotspur mungkin bakal makin bersinar popularitasnya setelah memboyong Luka Modric dari Dynamo Zagreb dengan nilai transfer 15,8 juta pound sterling (Rp 280 miliar). Kehadiran Modric tidak hanya bisa menaikkan peringkat klub ini, tapi juga menyedot lebih banyak penonton. Hotspur akan mendapat tambahan jumlah penonton dari kawasan Eropa Timur, kampung asal Modric. Sekali tepuk dua sasaran tercapai. Cara pintar yang sama ditempuh Wigan Athletic. Mereka berniat menggandeng penyerang Kroasia, Ivan Klasnic.

Merekrut pemain berdasarkan target pasar yang dibidik sudah lama dilakukan klub-klub sepak bola Eropa. Crystal Palace adalah pionirnya. Klub Inggris ini tahu diri. Mereka tak bakal bisa bersaing dengan klub kaya, seperti Manchester United atau Chelsea dengan Roman Abramovich. Mereka cuma “little” Abramovich. Karena itu, mereka mulai mengincar pasar Cina sejak 1995. Untuk merebut hati pelanggan TV, juga pembeli merchandise, mereka pun merekrut pemain Cina.

Cara itu ternyata manjur untuk mendatangkan uang dan popularitas. Bahkan cara itu dipakai klub-klub besar. Manchester City, misalnya, telah mempekerjakan pemain Cina, Sun Jihai, sejak 2002. Manchester United, juga merekrut Park Ji-sung, pemain dari Korea Selatan.

Pasar baru berarti tambahan pound sterling dari hak siar televisi, penjualan merchandise, serta uang sponsor karena merek mereka makin mendunia. Merek yang tanpa batas. Tak mengherankan jika Manchester United kini semakin menggurita dan menjadi klub terkaya. Berdasarkan laporan Forbes, nilai klub Setan Merah US$ 1,8 miliar (Rp 16,7 triliun). Padahal, pada 2005, saat klub itu dibeli konglomerat Amerika Serikat, Malcolm Glaze, nilainya “cuma” US$ 1,5 miliar (Rp 13,9 triliun).

Demi menguatkan merek mereka, 20 klub Inggris juga berniat menambah jadwal pertandingan, dari 38 menjadi 39 kali. Satu pertandingan tambahan itu akan dimainkan di luar Inggris. Bisa di Jepang, Cina, atau negara lain yang menjadi target pasar mereka. “Ini akan menjadi alat promosi mengalahkan klub-klub Italia,” demikian majalah Forbes memuji langkah mereka.

Saking banyaknya pemain asing dan penggemar asing yang dibidik Liga Primer Inggris, Michel Platini, bos Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA), ngedumel, “Liga Inggris itu adalah liga dengan klub-klub dengan pemilik asing, pelatih asing, pemain asing, dan juga penggemar asing.” Inggris tak peduli walau cara itu membuat tim nasional mereka menjadi rapuh. Pemain-pemain asli Inggris tak berkembang, kalah oleh pemain dari negara lain. Toh, cara itu membuat Liga Inggris menjadi magnet sepak bola nomor satu.

Cara itu kini jadi rumus pakem di industri olahraga. Sampai-sampai klub sepak bola Amerika Serikat, LA Galaxy, mengikuti jejak mereka. Mereka merekrut David Beckham dengan angka fantastis–pendapatan pada 2007 sebesar US$ 49 juta (Rp 455,7 miliar)–dan menjadikannya sebagai salah satu pemain bergaji terbesar di dunia. Kehadiran Beckham mendongkrak jumlah penonton 57 persen. Peringkat LA Galaxy di televisi juga naik 25 persen. Mereka juga berhasil menjual 300 ribu kaus bernomor punggung Beckham.

Pertanyaannya kini, kapan klub Indonesia mengadopsi secara serius teori marketing seperti itu untuk membesarkan klub mereka? Kapan ada pengusaha Indonesia yang serius, seperti Malcolm Glaze di MU? Padahal, bila klub-klub Indonesia tak kering ide, bukan tak mungkin, pada 2018 klub seperti Arema atau Persija sahamnya bisa nangkring di Bursa Efek Indonesia. Keren kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s