Statistik Jongkok

Spanyol Menjebol RusiaApa yang ada di pikiran Marco van Basten? Saat itu Belanda sedang menuju titik kritis. Meski tim asuhan Basten itu unggul 1-0 di babak pertama atas Prancis, bek Belanda, Joris Mathijsen, dan kawan-kawan harus jatuh-bangun dibombardir Franck Ribery, Thierry Henry, dan Sidney Govou.
Tiba-tiba Van Basten seperti mendapat ide cemerlang. Dia tak memasukkan pemain bertahan. Dia justru menarik Van der Vaart dan menyuntikkan Arjen Robben. Apa yang membuat Basten yakin Robben bakal membalikkan irama pertandingan? Intuisi pelatih?
Bukan semata-mata itu. Jawabannya adalah statistik. Basten tahu Robben seperti mustang, kecepatan lari dan staminanya menakjubkan. Dia adalah pemain tercepat di tim Oranye. Pada Euro 2008, Robben mampu berlari 30,89 kilometer per jam atau dalam sedetik ia berlari sejauh 8,52 meter. Angka itu hanya bertaut sedikit dengan rekor pelari tercepat Asia Tenggara, Suryo Wibowo, yang berlari sejauh 9,72 meter dalam satu detik. Itulah yang dimanfaatkan untuk melahirkan blitzkrieg, serangan kilat.

Statistik memang bisa menjadi pisau analisis yang tajam. Pelatih-pelatih basket di NBA dan rumah-rumah judi dunia juga menggunakan statistik. Seperti kata Larry Gonick dan Woollcott Smith dalam buku mereka, Kartun Statistik, “Keunikan statistik adalah kemampuannya menghitung ketidakpastian dengan tepat.”
Sepak bola, seperti halnya hidup ini, penuh dengan ketidakpastian. Angka-angka statistik membantu menguraikan ketidakpastian itu. Contoh gampangnya begini: saat menghadapi tendangan penalti, para pemain yang membentuk tembok penghalang cenderung melompat. Angka statistiknya 78 persen. Andai para pemain musuh tahu catatan statistik ini, bila bola ditendang keras mendatar menyusuri rumput, peluang untuk lolos dari halangan 78 persen.
Bisakah statistik menjamin kemenangan? Kata orang, bola itu bulat. Apa pun bisa terjadi. Seperti kata Arsene Wenger, pelatih Arsenal, “Statistik tak dapat mengatakan siapa yang bakal menang. Tapi statistik akan membantu menganalisis potensi masing-masing tim.” Selama ini kebanyakan pelatih cuma mengandalkan intuisi atau pikiran subyektif.
Wenger adalah contoh pelatih yang kecanduan statistik. “Saya sangat gila data,” kata pelatih asal Prancis yang jauh hari sebelumnya meramalkan tim negaranya sendiri bakal tersengal-sengal itu. “Data tak akan pernah berbohong,” kata lelaki yang dalam kejuaraan seperti Euro 2008 ini lebih suka pulang ke hotel, memutar rekaman pertandingan, ketimbang kongko di kafe. Itu sebabnya, meski dengan dana cekak, Wenger bisa membuat klub Arsenal bisa bersaing dengan klub kaya, seperti Chelsea dan Manchester United.
Untunglah, kini sepak bola mulai ketularan statistik. Mereka sadar bahwa kompetisi basket NBA di Amerika Serikat makin ngetop, pertarungannya makin sedap, berkat statistik. NBA kini tak cuma menyodorkan kepiawaian pemain “menari” sambil membuat dunk. Mereka mencatat semua detail gerakan pemain. Misalnya berapa kali Kobe Bryant mencuri bola, memberi umpan matang, memblok serangan, atau berapa peluang masuk tembakan tiga angka bintang LA Lakers ini.
Di sepak bola, baru kejuaraan Euro 2008 ini statistik diseriusi. Saat ini ada 16 kamera yang memantau gerakan 22 pemain serta ada staf yang memelototinya. Mereka mencatat hal-hal remeh-temeh: berapa ribu kilometer seorang pemain berlari, berapa kecepatannya, berapa kali bek Spanyol, Puyol, mencuri bola, atau ternyata 73 persen umpan Cristiano Ronaldo berbahaya. Angka-angka itu akan membantu pelatih mengatur strategi.
Demam statistik ini sebenarnya sudah menghinggapi koran, tabloid, dan televisi di Indonesia. Banyak komentator yang menebak pertandingan dengan menggunakan statistik. Sayangnya, kebanyakan mereka ngawur. Contohnya, dengan enteng mereka bilang, “Belanda akan kesulitan menghadapi Italia. Soalnya, catatan statistik menunjukkan, dalam 30 tahun terakhir tim Negeri Kincir Angin itu tidak mampu menumbangkan Italia.”
Membandingkan Belanda versus Italia sekarang dengan Belanda dalam rentang 30 tahun lalu jelas salah kaprah. Dulu Johan Cruyff mungkin memakai celana pendek “jadul” gombyor-gombyor atau Ruud Gullit masih berambut gondrong dan kriwil-kriwil. Statistik yang mereka pakai statistik basi. Bukan data yang kinyis-kinyis, 6 sampai 12 bulan terakhir. Semua itu kini tak ada. Yang ada kini adalah para awak The Flying Dutchman, legenda kapal hantu Belanda yang gerakannya menakutkan, seperti Ruud van Nistelrooy, Wesley Sneijder, Arjen Robben.
Hasilnya? Ramalan para komentator sok pintar itu hancur lebur. Belanda melahap Italia 3-0. Jadi, mulai sekarang, lupakan para komentator yang bicara dengan statistik jongkok itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s