Wajah Perkedel Harvard

Hari itu adalah kepingan hari terberat dalam hidup Mark Zuckerberg. Hatinya hancur lebur serupa debu. Seorang gadis baru saja menampik cintanya. Dia duduk sendirian meratapi malamnya yang malang dengan menatap langit-langit kamar asramanya di Harvard University.

Zuckerberg, ya cewek mana yang mau meliriknya saat itu, saat dia duduk di tingkat dua di Harvard. Tampangnya, kalau anak sekarang bilang, “pas bandrol”. Rambutnya ikal, kecoklatan. Tapi jangan bandingkan dia dengan John Mayer, penyanyi berambut ikal yang meraih Grammy Award dan kini menjadi kekasih Jennifer Aniston. Mereka amat jauh berbeda, seperti bumi dan Pluto.

Zuckerberg seperti jagoan komputer lainnya, tak punya banyak teman. Di Harvard ia mencoba membetulkan kepribadiannya yang soliter itu dengan masuk jurusan psikologi, bukan komputer. Toh, ilmu kuliah tak menolongnya, setidaknya dalam urusan meraih simpati cewek.

Saat perih menetes-netes dari hatinya, Zuckerberg tak meleleh dalam buaian lagu sedih seperti The Hardest Day dari The Corrs atau dalam lengkingan penyanyi rock yang sember. Ia menyerahkan rasa sakitnya kepada blognya dan menulis, “Wajah Perkedel Harvard: Sebuah Proses”. Rencananya simpel: balas dendam. Ia membuat situs dengan nama Facemash.com alias si wajah perkedel. Ia menerobos sistem komputer Harvard, mengunduh foto teman-temannya, khususnya yang cewek, dan mengunggahnya di situsnya itu. Lalu, dia memasang sistem yang membuat pengunjung Facemash.com bisa memberi peringkat pada setiap cewek.

Zuckerberg pun memulai balas dendam dengan gaya meledak-ledak khas anak sekolah. “Jessica A adalah sundal,” dia menulis. “Saya butuh pelampiasan untuk mencopot pikiran saya tentang gadis itu.”

Tindakan itu bikin heboh. Dia dihukum karena meretas komputer kampusnya. Tapi, itu semuanya terbayar. Popularitas Facemash.com melesat. Tiga pekan pertama jumlah mahasiswa yang mendaftar situs pertemanan itu mencapai 4.000 orang. Itulah bayi yang kemudian tumbuh besar Facebook.com yang kini anggotanya mencapai 116,4 juta orang.

Tindakan konyol pada 2004 itu melahirkan Zuckerberg sebagai orang baru. Dia menjelma menjadi triliuner termuda di dunia, usianya kini 24 tahun, yang menurut Forbes, kekayaannya US$ 1,5 miliar (Rp 13,9 triliun). Gadis yang dulu mencampakkannya mungkin akan menyesal melihat angka ini. Majalah Rollingstone menjulukinya dialah penerus sejati Bill Gates. Mereka berdua sama-sama drop out dari Harvard dan menjadi triliuner di usia belia.

Meski menjadi triliuner, cara hidupnya masih sekacau dulu: celana warna khaki dan kaos yang dibungkus sweater kusam dan ke kantor memakai sepeda. Di apartemennya, hanya ada dua kursi dan kasur tanpa ranjang yang menempel di lantai.

Zuckerberg telah menulis sejarah. Dulu Bill Gates memulai revolusi komputer meja dengan sistem DOS dan Windows menggusur era komputer segede lemari milik IBM. Kini, Zuckerberg meletakkan batu bata revolusi pertemanan via internet. Era komputer tanpa teman mungkin akan habis.

Sejarah yang ditorehkan Zuckerberg–juga Tom Anderson pendiri MySpace.com dan Jonathan Abrams, pendiri Friendster–telah membuat para pemain dotcom lama <I>kebat-kebit<I>. Microsoft, Yahoo! Google berlomba mengakuisi situs-situs itu. Nokia pun membeli Plazes, situs jejaring sosial yang berpusat di Zurich.

Wajah dunia sedang berubah. Mungkin wajah perkedel yang akan menggusur para pemain lama industri komputer atau dotcom.

4 responses to “Wajah Perkedel Harvard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s