Resolusi yang Sederhana

Setelah lama “berpuasa” ngeblog berminggu-minggu, akhirnya tergerak lagi keinginan untuk menulis. Hari-hari belakangan ini saya takut terjebak pada rutinitas. Rutinitas benar-benar membunuh kreativitas. Tak ada lagi ide-ide liar seputar pekerjaan dan mimpi-mimpiku. Kreativitas memasung energi yang meledak-ledak.

Bagaimana tidak memasung, bila rutinitasku seperti ini: Pagi-pagi harus menembus kemacetan di jalan tol dalam kota di Cawang, yang pasti menyedot 30 menit waktuku. Lalu seharian tenggelam dalam rapat, rapat, rapat dan rapat serta rapat. Ya, bisa lima kali rapat sehari! Setelah itu harus membunuh rasa bosan karena menunggu datangnya naskah yang harus diedit. Malam, walau sudah pukul 21.00 masih belum bisa pulang. Ada saja PR yang menjerat kakiku, bikin infografis-lah, atau naskah yang telat masuk.

Padahal, tahun 2008 ini aku punya resolusi yang sederhana. Salah satu resolusiku itu adalah pulang as soon as possible sehingga bisa shalat magrib di rumah bareng dua anakku. Targetku minimal dua kali seminggu shalat magrib bareng di hari yang bukan libur. Sepele, kan?

Ada banyak pertimbangan mengapa aku membuat resolusi sesederhana seperti itu. Yah, pekerjaan telah menyedotku habis. Padahal, anak-anakku semakin membutuhkan aku. Bukan cuma suaraku di telepon. Tapi aku benar-benar ada di sampingnya. Ada saat shalat magrib, menemani saat membaca Al Quran, menyimak hafalan Qurannya yang sudah satu jus lebih, merautkan pensil dan menyiapkan kertas untuk “kompetisi” Kumon setiap habis magrib, membuatkan layangan atau sekadar main congklak atau main sulap (gini-gini muridnya Dedi Corbuzier hehehe setidaknya ada peralatannya yang sama dengan punyaku).

Biar pun seremeh temeh itu resolusiku, tapi setengah mati memenuhi target itu. Jebakan rapat yang molor, atau pekerjaan yang berlimpah susah dihindari–walau aku bisa bekerja dari mana pun saja. Sering aku harus puyeng menembus three in one. Aneka cara kucoba. Misalnya, pakai joki–duh kok harga joki kian mahal ya, coba ada joki gratis trus wangi, dan cerdas🙂 . Atau menembus tol dalam kota sebelum waktu three in one datang.

Pulang dengan pakai jalan biasa (dari kebayoran, sudirman, casablanca, radin inten, dan rumah)? Wah lupakanlah, meski itu jalur terpendek. Jalur emas itu benar-benar padat, sejak popularitas Carrefour Kuningan dan Mal Ambasador terus meroket. Bila tanpa mobil, aku sering menembusnya dengan ojek Kebayoran-Kampung Melayu atau Kebayoran-Sudirman, atau malah pernah Kebayoran-Klender alias sampai depan rumah. Terbayangkan siksaan duduk sejam di atas jok ojek?

Kerapkali aku juga pulang memakai jalur memutar lewat Tol Lingkar Luar. Ini adalah rute yang “hangat”. Tak seperti jalur Sudirman yang penuh hutan beton yang dingin. Dulu jalan tol ini sepi dan cocok untuk nyetir sambil melamun. Walaupun jaraknya lebih jauh dari jalur nomarl hingga 15 kilometer, tapi jalur ini dulu bisa membuatku pulang dalam waktu sejam di rumah. Di Jakarta bisa pulang dalam waktu satu jam adalah sebuah kemewahan.

Kini jalan ini tak bisa lagi dipakai melamun. Arusnya sudah padat. Tak bisa lagi ngebut 120 kilometer di jam pulang kerja. Meleng dikit, ya diklakson orang.

Benar-benar menyiksa, mahal–dengan harga pertamax setinggi sekarang ini. Siksaan itu akan makin komplet bila sehabis Isya, saya kembali balik ke kantor untuk menunggui infografis dan PR lainnya.

Tapi itulah harga yang harus kubayar untuk anak-anakku. Demi magrib, baca Quran bareng , main congklak, dan bersim salabim.

6 responses to “Resolusi yang Sederhana

  1. Wuih, wuih, nggeer. Mulia tenan niatmu iku….

    Saya malah punya resolusi, bisa nggak ninggalin pekerjaan kantoran kayak gini, di akhir 2008. Trus tinggal lebih banyak di rumah nemanin istri, mengajar, order training dan pelatihan, dan nulis buku.

    Asik tenan. Mudah-mudahan tercapai. Amin….

  2. Halo mas Burhan, baru sempat mampir….ditunggu posting barunya. dan mudah-mudahan resolusi sederhananya bisa tercapai…………..vlisa

  3. Pernah mikir gak kerja dari rumah diremote, punya usah sendiri yang bisa diremote dari mana2 mas burhan hehehe, kaya saya sekarang tak remote kaya remote TV kalo gak mau diganggu mateeen HP selesai bilang HP lowbat enak tenan, bangun siang, tiap hari bercengkrama dengan si kecil mak nyus abisssssss, tanpa sadar sudah sekitar 10 bulan kaya gini TABUNGAAAAAAN LUDESSSSSSSSSSS TERNYATA DIRUMAH BIAYA OPERASIONAL MENINGKAT 3 KALI LIPAT PAT PAY WKAKAKAKAKKA ITULAH HARGA SEBUAH KENIKMATAN🙂

  4. ”Benar-benar menyiksa, mahal–dengan harga pertamax setinggi sekarang ini.”

    (Biar gak terlalu menyiksa, mobilnya yg minum premium aja)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s