Apple dan Kreativitas dari Lorong Getir

Sedih, dongkol, merasa disakiti, dikhianati, dianggap tak berguna oleh kawan, sahabat, atau pun bos? Itu biasa. Yang tak biasa adalah ada segelintir orang yang bisa mengubah energi negatif itu menjadi ledakan yang lebih hebat ketimbang fusi nuklir atau bom neutron. Steve Jobs adalah salah satu di antara segelintir itu. (duh, sayang waktu ikut konferensi di ke San Francisco nggak ketemu dia). inilah kisahnya.

Energi yang dahsyat itu bernama hidup yang getir. Itulah yang dialami Steve Jobs, Chief Executive Officer dan pendiri Apple Inc., yang membuat produk spektakuler, seperti komputer Apple yang stylish bentuknya dan iPod yang terjual ratusan juta unit, telepon seluler pintar iPhone, dan laptop supertipis Macbook Air. Ia telah menjadi miliuner di usia belia. Pada usia 25 tahun, ia sudah punya kekayaan US$ 200 juta dan menjadi orang termuda yang menjadi sampul majalah Time saat itu.

Ini semua bersumber dari energi yang memancar dari hidupnya yang getir dan rasa sakit hatinya karena harus drop out dari universitas yang dia idamkan, Stanford University.

Jobs mulanya adalah anak lelaki malang. Ia terlahir dari ibu yang hamil karena “kecelakaan”. Ibunya yang miskin kemudian berupaya mencarikan orang tua angkat yang cukup kaya agar dia bisa kuliah. Malang, orang tua yang sudi mengadopsinya hidup pas-pasan: ayah yang tak tamat SMA.

Ia sempat diterima di Stanford University, tapi kemudian putus karena tak sanggup membayar uang kuliah. Ia tidur harus menumpang di kamar kos temannya. Hidup Jobs juga bergantung pada uang hasil mengumpulkan botol Coca-Cola. Ia akhirnya terpaksa kuliah kaligrafi, mempelajari cara membikin huruf San Serif, Times, Roman, dan sebagainya. Saat itu, kaligrafi tak terlihat ada manfaatnya. Tapi, 10 tahun kemudian, ia bisa mendesain komputer Macintosh dengan huruf yang cantik. Windows pun akhirnya menjiplak Mac.

Seandainya tidak DO dan tidak mengambil kelas kaligrafi, ia tak akan bisa menghasilkan produk secantik itu. “Saya bersyukur bisa drop out,” kata Jobs, seperti dikutip Stanford News Services.

Hidup getir telah membuat energi kreatifnya meluap-luap. Jobs mengaku api kreativitas makin berpijar-pijar setelah dia ditendang dari perusahaan yang didirikannya sendiri bersama sahabatnya, Steve Wozniak, di garasi rumahnya, Apple Inc. Ia kemudian mendirikan perusahaan animasi Pixar, yang melahirkan film Finding Nemo dan Incredible, sebelum akhirnya direkrut kembali masuk Apple Inc.

Rasa perih dan hidup nestapa membuat kreativitas Jobs melenting menjadi produk-produk spektakuler yang mengubah gaya hidup dunia. Lihat juga fenomena iPod yang terjual ratusan juta unit dan toko musik online iTunes.com. iTunes merupakan toko musik pertama dan kini dinobatkan majalah Fortune sebagai penjual terbesar kedua setelah toko grosir Walmart. Fortune bulan lalu juga menobatkan Jobs sebagai CEO nomor 1 dari 500 perusahaan top dunia.

Tengoklah Macbook Air, laptop supertipis yang bulan ini mulai diluncurkan di Indonesia. Pesonanya bisa mengalahkan laptop tipis keluaran Toshiba, seperti Portege R500 atau Fujitsu. Tengok pula komputer iMac, komputer tanpa kotak komputer seperti lazimnya. Yang ada hanya layar, papan ketik, dan tetikus. Inilah yang bakal menjadi demam baru di negeri ini.

Begitulah hidup getir Jobs. Nasihatnya agar tetap kreatif adalah, “Stay hungry. Stay foolish.”

3 responses to “Apple dan Kreativitas dari Lorong Getir

  1. Hmmm..bener-benar mengesankan ya? penginnya punya kreativitas yang dibangun dari : Stay hungry, stay foolish-nya Steve Jobs

    sungguh inspiratif:)

  2. Wah.. aku baru tau kalo mas Burhan punya blog, gara2 search “Perkedel Harvard”..

    Well.. thanks buat artikel2nya selama ini di Koran Tempo.
    KT jumat selalu saya tunggu..!

    Salam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s