Kampanye Web 2.0 ala Obama

Membaca Barack Obama di ranah maya seperti membaca sebuah letusan dahsyat. Namanya berpijar-pijar terang, mengembuskan angin baru. Itulah persepsi di benak orang-orang iklan.

“Barack Obama adalah tiga hal yang paling Anda idam-idamkan sebagai sebuah merek,” kata Keith Reinhard, chairman emeritus di DDB Wordwide.Dia baru, berbeda, dan menarik.”

Sejak awal Obama sadar, para pemilihnya adalah kalangan belia, dengan usia 18 sampai 29 tahun. Mereka terdiri atas beragam warna kulit: hitam, putih, kuning, dan cokelat.

Dengan segmen pasar seperti itu, Obama telah memilih langkah pintar dengan mengoptimalkan semua arsenalnya di dunia Web 2.0 berupa situs pribadi, blog, serta situs jejaring sosial, seperti Facebook. Blogosphere (dunia blog) adalah dunianya.

Bandingkan dengan rivalnya, Hillary Clinton. Perempuan ini memilih menggunakan BlackBerry-nya. Itu cerminan pribadinya yang efisien, seperti pengusaha, dan masih “menyembah” Web 1.0. Web 1.0 adalah Internet model ortodoks. Berita hanya disajikan oleh situs dengan cara satu arah, dari penerbit situs ke para pembaca.

Obama sebaliknya, dia adalah generasi Web 2.0 (baca: web-to-o). Ini adalah era ketika Internet atau situs menyodorkan informasi dari dua arah, penerbit dan pembacanya. Pembaca memberikan berita melalui forum diskusi atau komentar.

Saat Obama berkampanye menyusuri jalan-jalan berkeliling ke berbagai negara bagian, misalnya, istrinya, Michelle, melangkah separuh langkah di depan. Ia memasang kamera web di komputernya. “Kami bercakap-cakap di ujung hari, ketika gadis-gadis dan saya ada di Chicago dan Barack ada di jalanan.”

Obama sangat tangkas meraih popularitas di Internet. Dia memanfaatkan jejaring sosial, seperti Friendster, Facebook, situs BarrackObama.com dan mybarrackobama.com, serta video YouTube, lalu mengubahnya menjadi viral marketing–pemasaran yang menyebar seperti virus dari mulut ke mulut atau dari blog ke blog. Videonya, I got a crush on…, berupa tayangan Obama bernyanyi dengan gaya lypsinc sangat populer di YouTube.

Obama sukses mengubah jumlah klik di dunia Internet–baik di situsnya maupun situs penggemarnya–menjadi dukungan suara di dunia nyata. Bahkan jumlah klik itu juga bisa dikonversinya menjadi ribuan dolar yang mengalir sebagai sumbangan kampanyenya.

Salah satu senjata rahasia Obama di era Web 2.0 adalah anak muda berusia 24 tahun, namanya Chris Hughes. Empat tahun lalu, dia kuliah di Harvard University, membantu Mark Zuckerberg dan Dustin Moskovitz meluncurkan situs Facebook. Kini, Hughes memilih ada di balik kampanye online Obama. Dia tak datang dengan membawa serangkaian kode-kode rumit situs web. Dia memboyong keahliannya mengorganisasi massa secara online.

“Kami berupaya agar orang-orang di level paling dasar tahu bagaimana, di mana, dan mengapa harus bergabung dengan kaukus Obama di Iowa, misalnya,” kata Hughes. Jejaring sosial lokal, seperti Facebook, adalah tempat ideal untuk melakukan itu. Murah dan efektif.

“Kampanye di Internet jauh lebih dinamis ketimbang media konvensional lainnya,” kata Profesor Christine Williams dari Bentley College. BarrackObama.com, yang menyajikan berita terkini, video, foto, ringtone, dan widget, selalu membuat para pendukung Obama terus kembali ke situs ini. Obamaniacs, para pendukung Obama, dapat membuat blog serta mengirimkan opini mereka soal kebijakan publik.

Menang atau kalah, Obama telah membuka mata dunia dengan gaya kampanye Web 2.0.

5 responses to “Kampanye Web 2.0 ala Obama

  1. memang di era teknologi informasi dengan internet sebagai infrastrukturnya, maka cara-cara konvensional yg dulu sering digunakan untuk kampanye (brosur, spanduk, iklan tivi, dll) mulai ‘kalah efektif’ jika dibandingkan dengan promosi di dunia maya (internet).

    apalagi ditunjang dengan tingkat pembelajaran IT yg tinggi dari para konstituen nya, maka akan lebih efektif lagi menggunakan teknologi yang bisa diakses dari seluruh penjuru dunia ini, dengan biaya yg minimal.

    semoga saja Indonesia bisa mencontoh cara berdemokrasi di Amerika saat ini, bukannya malah semakin jor2an pengerahan massa, menghambur2kan duwit buat sebar spanduk/ umbul2, dll .. yg hasilnya malah akan menjadikan siapapun pemenangnya untuk bertindak korupsi untuk menutup modal yg telah digunakan dijaman kampanye.

    semoga … 😉

  2. betul mas. kapan ya di indonesia calon gubernur, bupati, anggota dpr dan presiden secerdas obama dan pintar memanfaatkan web 2.0. Coba bandingkan dengan situs akbar tandjung yang baru diluncurkan http://www.bangakbar.com. betapa jadoelnya situs itu. masih web 1.0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s