Satu untuk Semua

cell ponInilah saat yang paling konyol dalam hidup saya. Itu terjadi tiga tahun lalu. Kala itu, demi memangkas tarif telepon dan Internet, saya sampai punya tujuh nomor ponsel. Semuanya “hidup” dan saya pakai.
Untuk “nomor resmi”, ponsel saya menggunakan Kartu Halo Telkomsel. Nomor itu tak mungkin diganti karena telanjur populer di kalangan kolega saya. Saya akan serasa terdampar di sebuah pulau sepi seperti Tom Hanks di film Cast Away bila nomor itu hilang. Kehilangan kawan, juga kehilangan rezeki.
Saya juga punya sebuah nomor Simpati. Nomor ini bisa digunakan untuk memangkas biaya telepon bila kita menelepon ke pelanggan Telkomsel.
Untuk berselancar Internet di mana saja dengan Palm Treo atau laptop, saya menggunakan kartu Fren yang saya pasangkan dengan layanan CBN. Dan agar tagihan telepon saya tak jebol, untuk menelepon ke kantor dan keluarga, saya menggunakan Telkom Flexi.
Tiga nomor lainnya adalah kartu perdana dari Indosat IM3. Tiga nomor itu saya beli gara-gara tergoda sebuah tulisan di mailing list di Internet. Ada yang bilang bahwa ada beberapa nomor IM3 yang salah kode sehingga bisa dipakai untuk berinternet gratis.
Hasilnya? Tagihan ponsel memang sedikit lebih irit dari biasanya. Namun, gara-gara itu, saya harus bayar cukup “mahal”. Ke mana-mana saya harus menenteng minimal tiga ponsel. Saya juga harus rajin-rajin mengganti kartu di ponsel. Benar-benar ribet.
Akhirnya saya menyerah. Saya cuma mau memakai dua nomor. Satu nomor GSM dan satu CDMA. Mau mengobrol, chatting lewat PDA, mengecek surat elektronik, berselancar ke intranet kantor, semuanya pakai dua nomor itu.
Saya juga memasang kacamata kuda untuk semua ingar-bingar tawaran promosi nomor seluler baru. “No. Saya sudah tobat!” begitu kata saya saat seorang kawan menawari berganti ke nomor seluler yang bebas kirim sandek (SMS) atau nomor yang murah untuk menelepon lokal.
Bisa dibayangkan berapa banyak orang yang memiliki kartu ganda seperti saya. Pekan ini ada diskon di operator A, orang ramai-ramai memburu kartu murah. Enam bulan kemudian, ada promo di operator C, kerumunan orang pun berpindah. Kartu lama dibuang dan pindah ke operator baru.
Jadi jangan heran bila tingkat kartu hangus (churn rate) di negeri ini cukup tinggi, sampai 10 persen. Di negara Asia-Pasifik lainnya, seperti India, cuma 4,5 persen, Cina juga 3 persen. Harga, tentu saja, bukan satu-satunya alasan menghanguskan kartu. Alasan lain adalah soal kualitas layanan dan cakupan jaringan.
Bandingkan dengan Amerika Serikat dan Selandia Baru. Di sana, selain iming-iming tarif murah, ada ketentuan bahwa nomor seluler merupakan milik pelanggan, bukan milik operator. Jadi pelanggan bisa memiliki nomor yang sama walaupun berpindah operator. Satu nomor untuk semua.
Di Selandia Baru, contohnya, katakanlah nomor saya dengan Vodafone adalah 0811-150470. Saat saya pindah operator, yang berganti hanya nomor awalnya, sehingga menjadi 0818-150470.
Betapa sedapnya. Operator akan benar-benar bersaing dalam layanan karena nomor melekat pada pelanggan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s