Goceng

Saya adalah pemimpi. Tidak cuma di siang bolong saya tenggelam dalam impian. Di siang yang padat dengan rapat pun saya sering terbuai impian. Mimpi saya sederhana: tinggal di tengah hehijauan persawahan nun di pucuk bukit sepi di Sukabumi.
Di dangau yang dikepung sawah itulah jantung aktivitas saya berdenyut. Sembari menikmati semilir angin sawah, mandi cahaya pagi yang terpantul dari kolam ikan, saya menulis artikel di tengah dangau. Ada Internet pita lebar 24 jam yang jatuh dari langit. Burung-burung pipit, belalang, dan tentu saja combro dan teh pahit adalah teman saya. Oh, betapa menyenangkannya.
Saya juga membayangkan petani-petani di sekitar gubuk saya bukanlah wong ndeso biasa. Mereka tak bertampang cupu, tidak pula mudah ditipu tengkulak. Mereka melek Internet dan pintar, tapi mempertahankan ciri khas petani desa, yang murah senyum serta suka membantu. Jangan tanya dari mana mereka tahu teknik menggemukkan sapi. Mereka mencarinya dari situs Badan Tenaga Nuklir Nasional! Mereka juga memasarkan melon dan madu lewat Internet.
Khayalan saya, anak-anak desa di sekitar gubuk saya itu juga biasa “memegang” laptop. Mereka bisa membangun jaringan komputer di sekolah–persis seperti anak-anak SD di Michigan, Amerika Serikat. Dan, olala, mereka telah “mengalahkan” PT Telkom. Dengan wajan, peranti nirkabel, mereka bisa membikin jaringan VoIP, telepon lewat Internet, menghubungkan rumah-rumah yang berkilo-kilometer jaraknya.
“Itu hil yang mustahal saat ini,” kata teman saya menirukan ungkapan Srimulat saat ia mendengar mimpi saya. “Alias mission impossible.”


Mission impossible? “Tidak,” kata Onno W. Purbo. Pria tambun, dengan otak brilian di bawah rambut ikalnya itu juga terbuai khayalan yang mirip mimpiku.
Onno, lelaki yang boleh disebut Bapak Internet Indonesia karena jasanya memasyarakatkan Internet nirkabel di negeri ini, termasuk ide membuat antena nirkabel dari wajan alias wajanbolic, punya ide gila. Idenya adalah seluruh anak sekolah di Indonesia terhubung dengan Internet setiap hari.
“Bayangkan di Indonesia ada 240 ribu sekolah dan 46,5 juta siswa,” katanya dengan berapi-api, matanya yang membelalak dan berpijar-pijar seolah tak mampu menahan letupan ide di otaknya. Ia bertanya, jika mereka semua terhubung ke Internet, apa yang terjadi? “Mereka bisa mengalahkan Australia dan Malaysia. Jumlah penduduk dua negeri jiran itu bila digabung, cuma 37 juta orang. “Dua negara itu bisa kita kalahkan hanya dengan dua kali ganti presiden,” ujarnya.
Menurut Onno, ini bukan misi yang mustahil. Caranya, setiap siswa cukup iuran Rp 5.000 per bulan. Jika ada seribu siswa, berarti sebulan terkumpul Rp 5 juta. Untuk langganan Internet Telkom Speedy tanpa batas, sekolah cuma keluar biaya Rp 350 ribu. Sisanya, untuk beli laptop atau komputer. Ya, cuma goceng per siswa per bulan, murah kan? Goceng bila dibelanjakan cuma dapat semangkuk bakso atau sebungkus rokok yang paling tak jelas mereknya.
Dahsyat. Benar-benar ide yang rruar biasa. Mendengar cerita itu, mimpiku semakin melambung lagi. Andai 46,5 juta siswa melek Internet, berapa banyak Bill Gates yang bakal lahir dari negeri ini, ya?
Tapi mimpi itu buyar seketika. Sebuah foto di koran tentang kelas yang atapnya sudah jebol merontokkan impian itu. Dindingnya miring. Oh, Tuhan.

2 responses to “Goceng

  1. terima kasih atas komentarnya, sarah eh ndorokakung. habibie center malah mencanangkan empat tahun lagi, penetrasi internet indonesia diharapkan mencapai 30 persen dari total penduduk indonesia. padahal saat ini baru 3 persen. Mungkin nggak ya sarah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s