Trem Berkelenengan di San Francisco

Kereta tua menyuguhkan romansa indah kota itu bagi para pelancong.

trem, cable car, saan franciscoMatahari belum muncul di pagi musim gugur yang meretas engsel tulang. San Francisco yang nyaris beku pagi itu ada di hadapanku. Persis seperti kata Mark Twain, novelis pengarang Oliver Twist, kota ini selalu berselimut cuaca dingin hampir sepanjang tahun.

Tiba-tiba saja pagiku dikejutkan oleh suara trem yang berkelenengan di depanku. Tong kleng, tong kleng. Bunyi lonceng logamnya mengingatkanku pada pedati yang ditarik sapi di kampungku, di bawah kaki Gunung Lawu, Jawa Timur. Roda besi kereta kayu satu gerbong itu berderak-derak. Listrik di bawah rel menyeret-seret cable car–begitu orang sana menyebutnya.

San Francisco tak menyediakan metromini atau angkot–moda transportasi khas negara miskin. Kota–yang menjadi kuali, tempat otak cemerlang dan semangat besar seperti Steve Jobs (penemu komputer Apple), George Lucas (sutradara Star Wars), Larry Ellison (bos Oracle, raja software terbesar kedua setelah Microsoft)–ini malah menghadirkan kereta kayu dari zaman perburuan emas di daratan itu, yakni 1873! Benar-benar dari kayu, dinding, lantai, dan atapnya. Ada dua larik kursi kayu yang pernisnya sudah lusuh.

Sejak subuh hingga malam, cable car ini selalu terengah-engah menapaki jalanan San Francisco yang berbukit-bukit, berlomba dengan Porsche dan limusin yang panjangnya semetromini. Kalau penyair Taufiq Ismail terpesona dengan kereta kayu itu–dengan membuat puisi Trem Berkelenengan di Kota San Francisco–bagaimana aku tidak? Lonceng besi, kereta kayu, suara derak-derak roda semuanya melumerkan badan lelah dan mata merah setelah lebih dari sehari semalam berada di pesawat.

San Francisco, bagi Jakarta, adalah kota yang ada di balik bumi. Perbedaan waktunya 14 jam. Terbang lewat barat atau lewat timur, paling tidak melibatkan hampir 20 jam. Tapi, karena perbedaan waktu, perjalanan menghabiskan waktu semalam suntuk. Berangkat jet lag. Pulang jet lag. Tapi semua kepenatan itu meleleh dengan pemandangan sedap: kereta kayu di antara berlarik-larik gedung tua neoklasik, serta dalam balutan pagi yang menggigil.

Lonceng yang berkelenengan itu datang lagi, membuyarkan lamunanku. Sudah dua trem yang kutunggu di Union Square San Francisco ini selalu penuh. Bahkan sebagian penumpangnya bergelantungan di separuh badan kereta yang terbuka. Aku bergabung dengan kereta ini, walau sebenarnya agak ngeri membayangkan bagaimana kereta tua ini menuruni jalanan yang curam. Tak ada rem cakram atau teknologi ABS seperti yang ada di mobil-mobil baru. Cuma ada tuas rem sebesar linggis di buritan kereta. Butuh tangan berotot untuk menarik rem yang terakhir dibuat pada 1984 dan konon aman sampai berumur 100 tahun itu.

Kengerian itu sirna. Cable car mengantarku berkeliling kota itu menghadirkan lukisan alam yang selama ini cuma kunikmati di film-film. Aku meninggalkan butik-butik mewah di Union Square dan kue cheesecake yang legit di Macy Department Store. Dengan tiket US$ 5 (sekitar Rp 50 ribu) aku berdiri bergayut di salah satu tiang kereta itu sambil menahan dingin.

Kereta itu beringsut naik ke punggung kota San Francisco. Jalannya cuma sedikit lebih cepat ketimbang orang-orang kantoran yang memulai ritusnya dengan berjalan kaki, memegang segelas kopi Starbucks, dan melafalkan bait-bait lagu dari pemutar musik iPod di telinga. Starbucks yang ada di tiap pojokan jalan, iPod, serta sepatu beralas datar adalah ikon khas pagi hari kota ini. Warga Francisco bisa saja memakai baju mahal dari DKNY, kacamata Salvatore Ferragamo, tas Louis Vuitton, tapi tetap saja sepatu mereka sepatu kets, karena mereka terbiasa berjalan 20 blok.

Dari ujung bukit itu, kereta ini menyajikan lukisan alam yang luar biasa: bukit-bukit, rel yang mengular ke pantai, deretan gedung berarsitektur Victoria yang “didatangkan” pertama kali oleh imigran Portugis pada abad ke-18, pantai, dan laut biru. Nun di ujung ufuk tampak mercusuar penjara terkejam di dunia, Alcatraz. Inilah pemandangan yang memikat 20 ribu turis.

Banyak museum, taman, juga bus-bus listrik di San Francisco. Tapi kereta ini teramat istimewa bagi warga setempat dan turis-turis. Di kereta ini semua keindahan San Francisco–gereja tua St Old Mary yang fondasinya didatangkan dari Cina, pecinan yang penuh lampion, hotel langganan manggung Frank Sinatra, Nobhill, hingga ke bibir pantai Fisherman’s Wharf eksotik–bisa dinikmati lamat-lamat. Saat lonceng kecil ditarik dengan seutas tambang yang hampir retas, saat itu pula aku seakan melompat ke alam nostalgia abad ke-18: inilah tempat para koboi meludeskan uang hasil menggali emas di meja judi, botol-botol wiski di saloon, dan perempuan. Butiran-butiran batu emas itu kini telah menjelma bongkah-bongkah kreativitas: di salah satu garasi rumah di kota ini Steve Jobs melahirkan komputer pribadi pertama, yakni Apple. Ribuan otak cerdas lainnya–termasuk Andi Groove, pendiri prosesor Intel–berkumpul di tetangga San Francisco–Lembah Silikon.

Ada tiga rute cable car. Tapi rute Power-Hyde dan Powell Mason adalah yang paling eksotik. Kereta ini akan mengantar kita dari pusat kota, naik bukit, melongok Lombart Street yang jalannya berkelok-kelok dikepung kuntum bunga warna-warni, dan berlabuh di pantai utara San Francisco yang romantis.

Di senja atau malam hari rute ini makin membangkitkan romansa. Ada kerlap-kerlip lampu restoran seperti kunang-kunang. “Ah, andai ada pasangan jiwaku di sini,” aku berkata dalam hati sambil mengulum cokelat Ghirardelli, cokelat khas San Francisco yang paling kaya rasa sejak 1852. Cokelat dua rasa–karamel dan cokelat kental–itu meleleh di mulutku. Cokelat, kereta kayu, kerlap-kerlip lampu gedung tua: terasa magis dan menghanyutkan kalbu. Lamunanku buyar ketika seorang juru mudi yang berotot, seorang Afro-Amerika menarik lonceng. Trem itu berkelenengan kembali, membawa mimpiku.

3 responses to “Trem Berkelenengan di San Francisco

  1. Memang San Fransisco salah satu kota terindah di US dan dengan budaya yang beragam. Seluruh kota bisa kita jelajahi dengan bis kota, metro, ataupun cable car. Lebih-lebih pada hari besar ada karnaval di area Castro. Dan kalau mau lihat keseluruhan kota bisa dari Twin Peak, akan kita temui tiga musim panas, kabut & dingiin.

  2. dari powell street union square, kita bisa dengan mudah menjangkau semua tempat indah di san francisco.
    dan benar, memandangi san francisco dari twin peak memang luar biasa. tapi, jangan kesana saat kabut sedang tebal. selain itu, ada beberapa tempat yang sangat indah di up town san francisco. coba pergi ke daerah saosalito dan millbrae. untuk ke saosalito, kita akan menyusuri tepian sungai kemudian di sambut dengan hamparan bukit-bukit indah yang tertutup rerumputan. kalau ke millbrae, kita seakan berada di kota kecil dengan pemandangan bukit-bukit di kejauhan. lampu-lampu kecil yang menghiasi jalanan dikala malam sungguh membuat millbrae tampak begitu cantik.

  3. Wah indah . .
    Dan tahun ini minggu lalu sy bru saja mendaftar di university san francisco . .
    Insya Allah bsa cri krja d sana sambil kuliah . .dan ingin skali mndapatkan beasiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s