Mahal

“Omong kosong!” kata seorang kawan. “Para pengusaha Internet Indonesia itu tak punya idealisme. Mereka tak punya niat memberikan Internet dengan harga murah, meskipun bisa.”
Nada suaranya melengking. Seolah-olah ia ingin menumpahkan semua kekesalan ihwal mahalnya tarif Internet di negeri ini kepada sepotong pizza yang ada di depannya. Saya cuma manggut-manggut menampung kekesalan sahabat saya yang sudah bertahun-tahun menjadi pengusaha Internet di Jakarta ini.

Menurut hitung-hitungannya, Internet Indonesia bisa lebih murah. “Minimal 25 persen lagi,” katanya berapi-api.
Internet murah di negeri ini memang masih merupakan impian yang sulit direngkuh. Benar, beberapa perusahaan, seperti Telkom, telah memangkas tarifnya. Internet berkecepatan tinggi atau broadband dengan saluran ADSL, atau biasa dikenal Telkom Speedy, sebulan Rp 200 ribu dengan jatah kuota data 1 gigabita per bulan.
Tapi langkah itu masih jauh dari murah. Bandingkan dengan di Malaysia. Di negeri jiran itu, tarif Internet sekitar Rp 200 ribu per bulan sudah mendapatkan akses Internet tanpa batas. Itu pun kecepatannya 512 Kbps, bukan 384 Kbps seperti di Indonesia. Nikmat, bukan?


Di Amerika Serikat juga sami mawon. Para pembeli iPhone keluaran Apple Inc., contohnya, diiming-imingi paket mencicipi Internet tanpa batas hanya dengan US$ 20 per bulan.
“Bagaimana Indonesia mau maju bila Internet masih mahal,” kata sahabatku lagi. Suaranya mengagetkan lamunanku, yang sedang membayangkan betapa efisiennya tinggal di surga Internet seperti Korea Selatan–penetrasi Internet di negara itu lebih tinggi ketimbang di Amerika Serikat.
Benar, sulit membuat Indonesia bersaing di bisnis teknologi informasi dengan “modal” Internet yang cekak seperti sekarang. Laporan UCTAD, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi perdagangan dan pembangunan, terbaru, jaringan Internet di negara-negara berkembang seperti Indonesia itu cuma seperenam jaringan Internet di negara-negara maju. Dengan kemajuan itu, jangan heran, inovasi-inovasi segar di dunia komputer begitu tumbuh subur di negara maju. Radio BBC dari London sampai repot-repot mewawancarai saya soal ini

Google adalah salah satu contohnya. Inovasi di mesin pencarinya itu kini mendatangkan keuntungan berlipat-lipat. Nila saham Google, yang hampir mencapai Rp 1.000 triliun, bahkan hampir menyamai anggaran belanja Indonesia–untuk membiayai sekitar 200 juta penduduk Indonesia. Gila, bukan?
Malangnya, pemerintah seperti tak mau tahu soal Internet. Andai pemerintah menganggap membangun infrastruktur Internet sepenting membangun jalan, duh, pengguna Internet Indonesia tak akan senelangsa seperti sekarang ini. Untuk membangun jalan–yang diyakini akan melahirkan efek ekonomi yang dahsyat–pemerintah berani mengutang. Pemerintah tak berani melakukan itu untuk proyek sepenting Ring Palapa, yang akan menghubungkan pulau-pulau besar dalam jaringan digital.
Saat-saat merenungi nasib, betapa malangnya tinggal di negeri yang tak punya visi ini, sahabat saya itu datang lagi. Kali ini dia duduk dengan membawa kabar baik. “Internet mestinya bisa turun lagi 50 persen. Bandwidth internasional kian murah,” katanya sambil memandangi nasi goreng tom yang gung yang ada di hadapannya.
“Kenapa?” tanya saya keheranan. Ia menjawab enteng, sekarang ini orang boleh ramai-ramai mengimpor bandwidth internasional. Kini ada operator baru sedang menarik kabel optik langsung dari Malaysia dan Australia langsung ke Tanjung Priok. Ini melengkapi saluran internasional yang selama ini sudah “diimpor” Indosat lewat Singapura. Hadirnya pemain baru mestinya bisa menurunkan tarif Internet.
Duh, sudah tak sabar mengucapkan, “Addio Internet mahal!”

2 responses to “Mahal

  1. kalo pun tarifnya bisa “sama persis” kayak Malaysia yg 200rb 512kb/unlimited.. itupun terlalu mahal klo buat kocek rakyat indo.. skrg 2008, UMR indo cuma sekitar 900rb.. bahkan tak sedikit pula yg gajinya di bawah 900rb, 200rb bagi mereka (Malaysia) itu mungkin cuma “di bawah” 10% dari gaji bulanannya.. klo 200rb buat standart/low-end indonesian itu udah hampir menguras 25% dr income bulanannya… jadi kesimpulannya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s