Internet di Sudut Angkot

tuktuk.jpgGerimis mempercepat kelam. Tapi sopir-sopir angkutan kota di depan Mal Ambasador cuek saja. Petang itu mereka memarkir angkot butut mereka dan berlomba menjemput para penumpang yang pulang kerja atau belanja.
Sudah bermenit-menit angkot itu ngetem. Beberapa penumpang mulai gelisah. Ada juga yang mengumpat, walau lirih. Tapi bukan itu yang memikat perhatian saya petang itu. Di antara penumpang yang duduk berdesak-desakan seperti pepes teri, saya melihat seorang pemuda, dengan ransel di pangkuannya, asyik memainkan telepon selulernya. Dia seolah tak peduli akan udara gerah yang membekap angkot sempit tersebut. Mata dan jemarinya asyik menari-nari di ponsel 3G (generasi ketiga).

Apa gerangan yang membuat dia kebal dengan semua kesumpekan yang dirasakan semua penumpang saat itu? Setelah kulongok, olala… dia ternyata asyik menjelajahi Internet. Dia mengetikkan sesuatu di halaman Google, lalu pindah berkelana ke situs berita.

Pemandangan yang luar biasa. Dulu, nyaris mustahil menemukan orang mengakses Internet di angkot–walaupun itu sudah kulakukan sejak 2004, sebelum jaringan 3G hadir di negeri ini. Yang lazim, di angkot, orang cuma memainkan ponsel untuk mendengarkan lagu atau menulis pesan pendek (SMS).

Itulah berkah kehadiran 3G dan budaya Internet yang makin mendarah daging. Banyak bukti soal ini. Tak usah repot-repot menggelar survei ala AGB Nielsen, Gallup, seperti jajak pendapat presiden di Amerika Serikat, atau riset ala Lembaga Survei Indonesia. Cukup tanyakan kepada teman Anda, siapa yang hari ini tak buka Internet? Rasanya sulit menemukan orang yang menjawab tak membuka Internet bila ia bekerja di kantor yang terhubung dengan Internet. Bahkan tak sedikit office boy yang juga punya alamat surat elektronik dan jadi anggota Friendster.

Internet sudah menjadi kebutuhan primer bagi orang-orang kantoran. Tak peduli apakah dia cuma digunakan untuk membaca gosip Mayangsari ataupun memperbarui data Friendster atau blog-nya, dan bukan untuk hal-hal produktif, seperti menjawab surat elektronik atau mencari data produk untuk perusahaannya.

Data yang ditunjukkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menjadi bukti tren itu. Menurut lembaga tersebut, jumlah pengguna Internet Indonesia pada 2007 naik 39 persen dibanding 2006. Total penggunanya sekitar 25 juta orang atau seperempat jumlah penduduk Indonesia. Tak usah heran bila demam Internet itu melanda ke mana-mana, termasuk hingga ke sudut angkot.
Inilah yang kemudian meletikkan semangat orang-orang untuk kembali ramai-ramai terjun ke bisnis portal dan dot com. Blog juga makin ramai. “Ini adalah tahun kebangkitan bisnis dot com di Indonesia,” begitu kata para pebisnis dot com.

Menilik Pemilihan Umum 2009 juga ada di depan mata, dunia dot com bakal makin menggeliat lagi. Orang-orang yang ingin berkuasa sibuk menebar pengaruh dan pesonanya lewat jalur mana saja, tak terkecuali dot com yang investasinya jelas lebih murah ketimbang membikin majalah atau koran.
Makin banyak portal baru, makin beragam suguhan berita. Apalagi bila tarif internet semakin murah, seperti di Amerika, misalnya, pembeli iPhone bisa menikmati internet US$ 20 sebulan untuk pemakaian unlimited. Enaaak tenan. Kalau sudah begitu, demam Internet di sudut angkot pun akan menjadi pemandangan yang biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s