Pembunuh Album Hit

Dunia indah Dipanjali Singh adalah ketika ia bisa mendengarkan musik dari telepon selulernya sepanjang hari. Gadis 17 tahun itu sudah lama tersihir budaya pop. Ia sudah tiga tahun dan sudah lima kali berganti ponsel. Ponsel terakhirnya bukanlah gadget pasaran, Motorola Ming, seharga Rp 3,6 juta.

Dipanjali adalah gadis yang haus akan musik pop. Dia sudah lama ikut melompat ke dalam gerbong para pengunduh lagu lewat ponsel. Setiap bulan ia mendapat jatah pulsa dari ayahnya US$ 14 atau sekitar Rp 131 ribu. Separuhnya dia habiskan untuk membeli lagu lewat ponsel.

Dipanjali kini mengantongi repertoir 50 lagu dari berbagai artis dan aliran musik. Salah satu artis favoritnya adalah Third Eye Blind, grup band grunge asal San Francisco, Amerika Serikat. “Saya biasanya tak menyimpan lama lagu yang diunduh, karena saya cepat bosan,” kata Dipanjali.

Generasi Y atau Gen-Y–istilah yang biasa digunakan di dunia pemasaran untuk menggambarkan anak-anak yang lahir antara 1981 dan 1995–seperti Dipanjali adalah dunia yang amat kontras dengan generasi sebelumnya. Mereka melek teknologi serta hidup dan bermimpi bersama iPod, ponsel, video game dan Internet. Bahkan mendengarkan musik lewat CD pun sudah terasa kuno bagi mereka.

Jangan heran, penjualan CD dan kaset merosot drastis sejak 2000. Era 2001 hingga sekarang adalah era erosi hebat penjualan album. Pada 2000, contohnya, lima album teratas–termasuk megahit dari dua artis super norak yang banyak penggemar, Britney Spears dan Eminem–secara gabungan terjual sampai 38 juta keping. Pada 2005, lima album paling populer hanya terjual separuh dari itu, hanya 19,7 juta keping.

Biarpun ada artis bersuara seksi, seperti Norah Jones, yang datang dengan Come Away with Me, semuanya sepertinya sudah terjun bebas. Pada 2005, industri musik terpuruk hingga separuhnya dan revolusi itu terus berlanjut hingga kini. “Bisnis rekaman sudah tamat,” kata Peter Paterno, juru bicara grup Metallica, yang berang karena lagu mereka dibajak.

Pertanyaannya, siapa yang membunuh album-album hit itu? Coba tengok pada kebiasaan Gen-Y, seperti Dipanjali. Dia membeli lagu lewat ponsel, mengunduh lewat Internet, bahkan juga bertukar lagu dengan pacar dan musuh di kelasnya.

Shawn Fanning adalah salah satu legenda yang telah merontokkan industri musik. Dari kamar kosnya, mahasiswa Northeastern University itu membuat aplikasi Napster yang membuat orang dari seluruh dunia bisa bertukar berkas lagu. Orang dari pelosok Citarik, Sukabumi, bisa mengunduh lagu Josh Groban dari komputer seorang karyawan Microsoft di Lembah Silikon, California. Begitu pula sebaliknya, profesor fanatik di Leiden, Belanda, bisa mengunduh lagu Bengawan Solo atau dari komputer klerik di Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia.

Fanning memang akhirnya menyerah karena diseret ke pengadilan oleh raksasa industri musik. Tapi revolusi yang dirintisnya telah berkobar-kobar hingga kini. Ribuan orang meneruskan langkah revolusi musik digital tersebut. Ada Kazaa, ada jaringan peer to peer, torrent, serta ponsel. Toko CD dan kaset bukan lagi tempat pertama untuk mendapatkan lagu.

Dipanjali adalah salah satu penumpang dari revolusi musik digital itu. Dan lihatlah orang-orang di sekitar Anda, di dalam bus-bus AC, di kereta-kereta eksekutif, berapa banyak yang kuping mereka ditempeli earphone yang terhubung ke ponsel atau pemutar musik digital? Jutaan orang diam-diam sedang melakukan revolusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s