Evolusi Ponsel Belum Mati

Sepuluh tahun lalu orang tak pernah memimpikan telepon seluler menjadi benda yang amat “meracuni” seperti sekarang ini. Semua orang tergila-gila pada benda itu. Orang-orang kantoran berlomba membeli ponsel seharga sepeda motor. Anak-anak jalanan di Jatinegara, misalnya, mengamen demi membeli pulsa.

Akhir 1990-an, ketika ponsel GSM tiba ke negeri ini, siapa yang membayangkan ponsel–kala itu masih seukuran batu bata –bakal menjadi personal hub yang begitu penting.

Bukan cuma urusan menelepon dan mengirim pesan yang bisa dilakukan dengan ponsel. Dia juga membantu banyak orang tetap bekerja walau jauh dari kantor. “Dia adalah jantungku,” begitu kata sebagian orang.

Berkat ponsel, di bawah rerimbunan pohon di Monkey Forest di Ubud, Bali, orang bisa memasukkan laporan ke kantor di Jakarta lewat jaringan 3G. Ponsel pula yang mengusir kebosanan saat orang-orang terjebak kursi pesawat kelas ekonomi yang sempit atau di tengah impitan orang yang berjubel di dalam bus Transjakarta. Dia mendatangkan sejumput keajaiban musik dari Andra and the Backbone, Gigi, James Blunt, Bryan Adams, hingga Michael Buble. Dia juga menghadirkan video lawakan-lawakan garing Tukul Arwana, akting sempurna Meryl Streep, atau film-film segar Steven Sodenberg.

Dulu, membayangkan ponsel bisa menjadi alat serba bisa seperti membayangkan jantung Kota Ngawi, Jawa Timur, bakal direndam banjir–selama puluhan tahun kota di dekat kaki Gunung Lawu itu tak tersentuh banjir, apalagi air bah setinggi 1 meter seperti sekarang. Rasanya mustahil. Tapi dunia sudah berubah. Ponsel telah menjelma menjadi seperti tongkat sihir Harry Potter yang serba bisa.

Bahkan kini Telkomsel dengan layanan T-Cash telah merintis jalan agar ponsel bisa menjadi dompet digital. Mau membeli minuman bervitamin C-1.000 miligram atau teh hijau? Tak perlu bawa uang, cukup sodorkan ponsel. Indomart atau Fuji Image Plaza–sementara baru dua pedagang itu yang digandeng Telkomsel–akan memotong “uang tabungan” di ponsel Anda.

Ponsel telah berevolusi luar biasa jauhnya. Dari segi ukurannya, misalnya, sejak ditemukan oleh si brilian Martin Cooper pada 1973, ukurannya masih setebal batu pengasah pisau ponsel hingga kini tebalnya cuma 6 milimeter. Tapi ini bukan akhir dari evolusi ponsel.

Di masa depan, ponsel mungkin akan menyatu dengan perkakas lainnya, seperti laptop, jam tangan, dan dompet. Itulah bocoran prediksi dari HP, vendor komputer dari Amerika Serikat. “Masa depan bukanlah di seluler,” kata Phil McKinney, Chief Technique Officer HP untuk divisi peranti personal jaringan yang digunakannya. Peranti itu, kata McKinney, tak lagi bersandar pada jaringan seluler, seperti 2G, 3G, WiMax, atau Wi-Fi. HP meramal peranti itu akan menggunakan jaringan nirkabel baru, yakni ultrawideband (UWB).

Bentuknya mungkin tak lagi seperti ponsel, PDA, atau laptop seperti sekarang. Ia mungkin akan muncul menjadi seperti jam tangan atau sesuatu yang tak pernah lepas dari manusia. Ukurannya mungkin akan sama dengan kartu kredit. Evolusi itu tak akan berhenti bergulir.
published in iTempo at Koran Tempo 11 Jan 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s