Feeds:
Posts
Comments
This is article from Heidi Cohen. She is an expert in social media marketing.

There are many interesting in her article. We have seen many Twitter strateggy from many brands like Coca Cola, Toyota, Oreo etc. But, are their campaign in Twitter success?

Manya big companies or brands spend more than six months acquiring 1,000 followers to whom they craft three messages a day and wonder why nothing’s happening. Their Twitter strategy doesn’t work..

Here are some tips from Cohen. Enjoy it

clipped from heidicohen.com
How to Get Your Twitter Strategy to Work

10 Steps to Improve Your Twitter Engagement

Does your Twitter strategy work? I’ve had marketers tell me that their Twitter strategy doesn’t work. They spend six months acquiring 1,000 followers to whom they craft three messages a day and wonder why nothing’s happening. They don’t understand that Twitter is a cocktail party conversation that occurs on a one-to-one, one-to-many and many-to-many basis.  In essence, these marketers have found a good size gathering, made a few sparkling comments, and left without waiting to hear anyone’s response.  Therefore it’s no surprise that their Twitter activity’s not yielding any measureable results.

  blog it
Boleh saja anda tak perca. Ternyata prediksi pengguna Twitter itu akurat dan tajam. Survei yang dilakukan oleh Social Computing Lab di HP Labs Palo Alto menunjukkan itu.

Film-film yang banyak disebut oleh penguna Twitter ternyata terbukti laris sebagai BoxOffice. Bahkan, prediksi para pengguna Twitter ini jauh lebih akurat ketimbang Hollywood Stock Exchange.

Beberapa film yang terbukti sukses seperti perkiran penguna Twitter adalah Avatar, Twilight dan The Blind Side.

Itu prediksi pengguna Twitter di Amerika sono. Bagaimana di Indonesia?

clipped from www.kk.org

The chatter in Twitter can accurately predict the box-office revenues of upcoming movies weeks before they are released. In fact, Tweets can predict the performance of films better than market-based predictions, such as Hollywood Stock Exchange, which have been the best predictors to date.

tweet-rate.jpg
  blog it

Steve Jobs mengguncang dunia dengan cara sederhana. Berdiri di depan ribuan orang di Moscone Center, San Fransisco, dia cuma memakai celana jins, kaus hitam, dan sepatu kets. Ia tersenyum lebar sembari menunjukkan ponsel tanpa tombol, yakni iPhone.

“Selamat tinggal tombol,” begitu kata Jobs.

Gemuruh tepukan tangan pun memenuhi Moscone Center. Gedung itu sibuk berdiri membeku menahan hawa dingin kota itu ketika penjualan iPhone meroket di berbagai belahan bumi, seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Setelah itu semua produsen ponsel berbondong-bondong membikin tiruannya. Bahkan Google, yang notabene tak berbisnis ponsel, pun ikut-ikutan masuk. Ia bersama pengembang lainnya menyulap sistem operasi Linux menjadi Android, sebuah sistem operasi baru untuk ponsel.

Google tahu iPhone memang fenomenal. Dalam tiga bulan terjual lebih dari sejuta unit. Dan sejak dijual pada 29 Juni 2007 hingga kini telah terjual 21,1 juta.

Tapi Google juga tahu pasar ponsel pintar masih terlalu lebar. Kue penjualan iPhone masih terlalu kecil, sekitar 8 persen dari 162 juta ponsel pintar pada 2008. Itu menurut data Informa. Pasar utama masih dikuasai ponsel-ponsel Nokia.

Itulah sebabnya Sergey Brin dan Larry Page, dua pendiri Google, tak keder. Mereka malah mencium kue penjualan yang sedap: pangsa pasar ponsel pintar akan terus meroket. Android, yang kini masuk Indonesia lewat G1 bikinan HTC, punya peluang.
Continue Reading »

Gelap datang cepat di Stockholm saat musim dingin. Saat itu pukul 4 sore. Di sore yang menggigil itu, Gunnar Johansson berdiri di samping sebuah jalan raya. Tubuhnya terbalut mantel, tangannya terbungkus di sakunya. Ia memandangi mobil-mobil yang berpacu tanpa kemacetan. Di sisi jalan ada dua kamera yang “mencatat” pergerakan mobil-mobil itu. Sebuah pelajaran penting buat Jakarta sedang ditorehkan saat itu.

Johansson bukanlah orang spesial. Dia hanya seorang ekonom ahli transportasi. Tapi warga Stockholm kadang menjulukinya sebagai tukang sulap karena ia telah membuat kemacetan hilang dari kota itu.

Kalau warga Jakarta datang ke Stockholm pada 2003, mereka pasti kaget. Kota itu dibekap kemacetan. Udara juga dikotori oleh asap mobil-mobil pribadi yang menderu-deru. Pemerintah setempat puyeng mengatasi penyakit kronis itu. Mereka lalu membentangkan rencana: kemacetan pada jam sibuk harus diturunkan 10 sampai 15 persen. Caranya, mereka menarik tarif khusus untuk mobil yang melintas pada jam tertentu dan di jalan-jalan protokol. Cara ini menjadi obat mujarab untuk Kota Singapura dan London.

Tapi Stockholm menerapkan strategi ini dengan memasang kamera. Kamera? Di setiap jalan ada dua kamera pengintai yang dipasang berhadapan. Johansson bergabung dengan IBM setelah PricewaterhouseCoopers diakuisisi oleh perusahaan Big Blue itu. Dialah yang memimpin IBM memenangi proposal untuk menggebah kemacetan.
Continue Reading »

Sepotong bom tak cuma membawa pesan pembunuhan. Bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton bisa juga dilihat dengan “kacamata” positif: betapa kreatif para pembuatnya. Anggap saja bom ini sama dengan bom Marriott pada 2003. Para pembuatnya bisa menghasilkan energi yang dahsyat dari baterai 9 volt dan beberapa bubuk rahasia. Teroris Amerika mungkin butuh C4 untuk membikin ledakan. Teroris Indonesia tidak. Hanya bermodal bubuk belerang, bubuk hitam misterius racikan khas Jamaah Islamiyah sebagai pemicu, lalu gotri dan mur yang dilekatkan dengan jarak yang sama, mereka membuat bom yang bisa mengguncang dunia itu.

Mereka mempelajari itu bukan di gedung ber-AC yang mewah seperti tim Laboratorium Forensik Kepolisian Republik Indonesia belajar di kantor FBI di Amerika Serikat. Mereka belajar di kamar-kamar kontrakan sempit dan sekadarnya, dari buku-buku diktat tulisan para senior mereka.

Betapa sayangnya energi kreatif para pembuat bom itu meletup pada tempat dan ideologi yang keliru. Andai energi tersebut disalurkan ke temuan-temuan bermanfaat, seperti membikin cip ponsel, betapa dahsyatnya. Jumlah pelanggan seluler di Indonesia pada pertengahan tahun lalu sudah di atas 120 juta. Angka itu terbilang terbesar nomor 6 dunia. Bayangkan, bila mereka bisa membuat cip separuh saja dari jumlah itu, produsen ponsel seperti Nokia, Motorola, dan Apple mungkin akan “menyembah-nyembah” mereka. Selama ini hampir semua ponsel di Indonesia adalah produk impor. Tak ada satu pun komponen bikinan lokal. Jadi dari tukang becak, tukang sayur, sopir, hingga bos-bos perusahaan raksasa semua menyumbangkan duitnya untuk ponsel impor.
Continue Reading »

Jusuf Kalla tampaknya begitu terinspirasi dengan gaya kampanye Barack Obama. Entah siapa pembisiknya, tiba-tiba saja dia meniru jejak Obama pekan lalu. Kalla saja mendadak jadi blogger. Lalu dia menggandeng blogger kondang, Ndoro Kakung, untuk menggelar acara kumpul blogger pada Kamis (19/3) di Kafe Pisa Mahakam, Jakarta Selatan.

Para blogger pun kaget. Juga bingung. Soalnya, pada saat yang sama ada acara Fresh, kopi darat para blogger sebulan sekali, yang malam itu digelar di FX. “Saya ingin mendengar dan didengar,” begitulah kata blogger pemula, Kalla.

Selain mendadak ngeblog, Kalla juga mendadak pakai BlackBerry Bold. Lagi-lagi meniru Obama? Entahlah. Kalla beli Bold BM atau bundel operator? Manaketehe
Yang pasti, pesaingnya, Susilo Bambang Yudhoyono masih menggunakan ponsel Nokia E90.

“Susah memakainya,” kata Kalla saat memamerkan Boldnya seperti dikutip Jawa Pos. Dia malah mengeluarkan ponsel Samsung pipih lamanya.

Setelah ini apakah para calon presiden ini juga akan mendadak nge-plurk? Atau malah ikutan beli iPhone? Wallahu a’lam. Kalau bagi rakyat, apa pun ponselmu Sob, yang penting hatimu jujur untuk rakyat.

clipped from www.kaskus.us

JAKARTA – Wabah BlackBerry (BB), rupanya, tidak hanya mencandui anak muda ataupun kalangan pekerja kantoran. Wakil Presiden Jusuf Kalla pun kini ”terjangkiti” virus BB. Ketua umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar itu kini getol belajar menggunakan telepon seluler tambun yang juga favorit Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama itu.

Saat penerbangan dari Jakarta menuju ke Makassar, Sulawesi Selatan, Kalla yang didampingi istrinya, Ny Mufidah Jusuf Kalla, tampak sibuk mengutak-atik BlackBerry. Perangkat BlackBerry jenis Bold itu sudah hampir seminggu ini dimiliki Kalla yang akan maju sebagai calon presiden RI periode 2009-2014. Bukan terbantu, Kalla justru bingung mengoperasikan ponsel canggih yang menyediakan banyak fitur tersebut.

”Ah, susah juga yang pakai ini. Lebih mudah menggunakan handphone saya ini yang lama,” ujarnya sambil mengeluarkan HP merek Samsung model lama yang berwarna hitam dan berbentuk pipih. (noe/kim)
  blog it
Jangan dikira Amerika Serikat adalah negeri supermaju untuk internet. Dalam soal internet cepat, persentasi penduduk Amerika yang menikmati internet pita lebar (broadband) malah dengan Korea atau Jepang.

Itulah sebabnya, senat Amerika sedang sibuk membahas rencana alokasi stimulus ekonomi yang akan mengucurkan US$ 7 miliar untuk memberikan koneksi broadband gratis di pedesaan Amerika.

Di bawah ini peta petani di Amerika yang menggunakan internet. Semakin merah warna petanya, berarti semakin top konseksi internetnya.

Kapan ya Indonesia bisa begini? Siapa tahu para petani bisa mengikuti jejak ndorokakung (www.ndorokakung.com), berjualan di internet.

clipped from gigaom.com
StatShot: Farmers With Broadband
agcenus1
  blog it
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.