Feeds:
Posts
Comments
Jusuf Kalla tampaknya begitu terinspirasi dengan gaya kampanye Barack Obama. Entah siapa pembisiknya, tiba-tiba saja dia meniru jejak Obama pekan lalu. Kalla saja mendadak jadi blogger. Lalu dia menggandeng blogger kondang, Ndoro Kakung, untuk menggelar acara kumpul blogger pada Kamis (19/3) di Kafe Pisa Mahakam, Jakarta Selatan.

Para blogger pun kaget. Juga bingung. Soalnya, pada saat yang sama ada acara Fresh, kopi darat para blogger sebulan sekali, yang malam itu digelar di FX. “Saya ingin mendengar dan didengar,” begitulah kata blogger pemula, Kalla.

Selain mendadak ngeblog, Kalla juga mendadak pakai BlackBerry Bold. Lagi-lagi meniru Obama? Entahlah. Kalla beli Bold BM atau bundel operator? Manaketehe
Yang pasti, pesaingnya, Susilo Bambang Yudhoyono masih menggunakan ponsel Nokia E90.

“Susah memakainya,” kata Kalla saat memamerkan Boldnya seperti dikutip Jawa Pos. Dia malah mengeluarkan ponsel Samsung pipih lamanya.

Setelah ini apakah para calon presiden ini juga akan mendadak nge-plurk? Atau malah ikutan beli iPhone? Wallahu a’lam. Kalau bagi rakyat, apa pun ponselmu Sob, yang penting hatimu jujur untuk rakyat.

clipped from www.kaskus.us

JAKARTA – Wabah BlackBerry (BB), rupanya, tidak hanya mencandui anak muda ataupun kalangan pekerja kantoran. Wakil Presiden Jusuf Kalla pun kini ”terjangkiti” virus BB. Ketua umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar itu kini getol belajar menggunakan telepon seluler tambun yang juga favorit Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama itu.

Saat penerbangan dari Jakarta menuju ke Makassar, Sulawesi Selatan, Kalla yang didampingi istrinya, Ny Mufidah Jusuf Kalla, tampak sibuk mengutak-atik BlackBerry. Perangkat BlackBerry jenis Bold itu sudah hampir seminggu ini dimiliki Kalla yang akan maju sebagai calon presiden RI periode 2009-2014. Bukan terbantu, Kalla justru bingung mengoperasikan ponsel canggih yang menyediakan banyak fitur tersebut.

”Ah, susah juga yang pakai ini. Lebih mudah menggunakan handphone saya ini yang lama,” ujarnya sambil mengeluarkan HP merek Samsung model lama yang berwarna hitam dan berbentuk pipih. (noe/kim)
  blog it
Jangan dikira Amerika Serikat adalah negeri supermaju untuk internet. Dalam soal internet cepat, persentasi penduduk Amerika yang menikmati internet pita lebar (broadband) malah dengan Korea atau Jepang.

Itulah sebabnya, senat Amerika sedang sibuk membahas rencana alokasi stimulus ekonomi yang akan mengucurkan US$ 7 miliar untuk memberikan koneksi broadband gratis di pedesaan Amerika.

Di bawah ini peta petani di Amerika yang menggunakan internet. Semakin merah warna petanya, berarti semakin top konseksi internetnya.

Kapan ya Indonesia bisa begini? Siapa tahu para petani bisa mengikuti jejak ndorokakung (www.ndorokakung.com), berjualan di internet.

clipped from gigaom.com
StatShot: Farmers With Broadband
agcenus1
  blog it

Ironi Amerika?

Saat perusahaan-perusahaan Amerika Serikat kelimpungan dan sibuk menyelamatkan diri dengan memecat jutaan karyawan, tentara Amerika Serikat malah SUKSES menambah jumlah tentaranya.

Keberhasilan perekrutan ini diabadikan oleh majalah Time dengan grafik yang gamblang. Inikah ironi Amerika?
Perekrutan Departemen Pertahanan

Simplicity of BarackBerry

Presiden Amerika Serikat Barack Obama memang boleh memakai ponsel kegemarannya, yakni BlackBerry. Hanya, Gedung Putih mewanti-wanti agar dia berpikir dua kali sebelum menekan tombol “SEND” . Menurut juru bicaranya Gedung Putih, BlackBerry itu hanya digunakan untuk menghubungi orang-orang terdekatnya.

Siapa orang terdekatnya? Ponsel yang disebut BarackBerry ini  menurut Time, hanya terdiri dari beberapa tombol. Di bawah ini tampak gambar bocorannya ponsel yang disebut BarackBerry. Ponsel ini diberi pengaman khusus sehingga tak mudah disadap. Harganya Rp 36,8 juta. Lihatlah betapa “simpelnya” tombol-tombol BarackBerry ini.

barack_berry1

Fans Jempol-er Melonjak

Para pengguna BlackBerry alias fans ponsel jempol-er ternyata meningkat pesat. Tiga operator, Indosat, Telkomsel, XL adu kuat kampanye iklan. XL penggunannya sudah di atas 8.000 ribu orang. Indosat dan Telkomsel lebih tinggi. Indikator kenaikan para jempol-er itu bisa dilihat dari ramainya milis-milis blackberry berikut ini:

jumlah pengguna milis blackberry di indonesia meningkat

jumlah pengguna milis blackberry di indonesia meningkat

Autis

Sayidati kerap tak habis pikir mengapa suaminya begitu keranjingan Facebook atau Twitter, dan Yahoo! Messenger. Ke mana pun sang suami pergi, dia tak pernah lepas dari situs dan peranti social networks itu. Ke kafe, kantor, bahkan saat berlebaran di rumah paman mereka, jemari kekasihnya itu tak pernah lepas dari BlackBerry. Matanya juga selalu melirik pesan-pesan baru yang masuk.

“Persis orang autis,” kata Sayidati kesal. Dia sudah bosan mengingatkan lelaki itu. Toh, sang suami seperti tak pernah mendengar keluhan soal autisme yang sudah belasan kali dilontarkan.

Continue Reading »

Bukan Makelar

Dari mana lahirnya sebuah inovasi? Setiap penemu punya jawaban berbeda soal ini. Thomas Alva Edison, contohnya, menggali ide dari hal-hal gila, seperti mengerami telur berjam-jam. Cher Wang punya jalan sendiri. Putri raja plastik Taiwan itu menapaki jalan terjal selama bertahun-tahun sebelum akhirnya perusahaannya, HTC, berkibar menjadi produsen PDA papan atas dunia. Bahkan kini mereka menjadi produsen PDA dengan sistem operasi Android, sistem yang dikembangkan bersama Google dan bakal menjadi penantang iPhone.

Wang ingat saat dia masih tinggal di Prancis pada awal 1980-an. Paris kala itu masih beku, diselimuti pagi. Tapi Wang, putri orang kedua terkaya di Taiwan, sibuk naik-turun tangga menggotong komputer yang akan dijualnya. Dia saat itu bekerja untuk First International Computer. “Saya juga bolak-balik harus membongkar komputer agar tak terlalu berat dibawa dan bisa masuk taksi,” kata perempuan yang kini berusia 50 tahun ini. Kerja keras di pagi buta itu rupanya meletikkan ide di otaknya: “Saya harus menjadi raja komputer.”

Wang bukanlah Paris Hilton. Hidupnya bukan cuma untuk memborong baju dan tas mahal Gucci atau Prada. Saat muda, dia pindah dari jurusan yang penuh senang-senang, yakni musik, ke jurusan yang penuh kerja keras, yaitu bisnis, di University of California, Berkeley.

Wang telah memetakan jalan untuk melahirkan serentetan inovasi. Awalnya dia cuma mendirikan pabrik “tukang jahit” komputer pada 1997, yakni Via. Dia segera menelurkan perusahaan baru khusus membuat komputer genggam atau PDA. HTC adalah sahabat erat Microsoft dalam proyek membuat PDA berbasis Windows. Dulu raja PDA adalah Palm.

Di tangan Wang, HTC menjadi inovator. Wang bukan pengusaha kelas pedagang atau makelar seperti kebanyakan pengusaha di Indonesia. Dia adalah pengusaha yang juga penemu. Pada 1999 dia menjadi produsen pertama yang membikin PDA dengan layar warna. Lalu pada 2002, HTC pula yang pertama membuat PDA phone. Pada tahun yang sama, HTC meluncurkan PDA phone pertama berbasis Windows untuk pasar Eropa. Kenangan akan dinginnya angin pagi Paris saat dia masih bekerja untuk orang lain membuat Wang memulai langkah di wilayah itu.

Sejak itu, orang tercengang-cengang melihat HTC. Merekalah yang ada di balik PDA merek Compaq atau O2. HTC melesat menjadi menjadi produsen PDA berbasis Windows terbesar di dunia.

Rahasianya ada pada ide liar Cher Wang. Sebagai contoh, tiga tahun lalu HTC melahirkan divisi yang disebut Magic Labs. Ini kelompok kecil yang menghargai ide segar. Mereka terdiri atas desainer manufaktur, insinyur, penulis, programmer, bahkan desainer perhiasan. Tugas mereka adalah menguji semua ide gila. Tim ini dipimpin oleh John Wang, yang pada kartu namanya tertulis sebagai “Kepala Jagoan Inovasi”.

“Tugas kami adalah merancang produk untuk gagal,” kata John Wang bercanda. “Butuh 1.000 ide sebelum akhirnya lahir menjadi sebuah produk yang bisa dijual.” Merekalah yang melahirkan teknologi layar sentuh seperti iPhone yang mereka sebut TouchFlo.

Khusus untuk membuat Android, HTC mengirimkan 30 insinyur untuk bekerja di tempat yang mereka sebut Googleplex di Mountain View, California. Itulah yang membuat Android lahir.

Sebuah jalan kesuksesan telah dibentangkan oleh sang inovator, Cher Wang, perempuan perkasa yang kini menjadi orang terkaya kelima di Taiwan

Lelaki di Cut Mutia

Mestinya saat itu bisa menjadi acara buka puasa yang manis dan menentramkan. Bayangkan, betapa nikmatnya: duduk sendirian di sudut restoran Izzi Pizza  di Kuningan, Jakarta. Meresapi detik-detik berganti, menyesapi keremangan cahaya di sana. Menunggu senja luruh, dengan setumpuk kenangan sore, dan sepiring caesar salad atau soup of the day dan selapis tipis pizza Italia. “Itu bisa menjadi the best breakfast of the month-ku” pikirku.

Mestinya saat itu juga bisa acara buka puasa yang menenangkan jiwa. Bayangkan, betapa syahdunya duduk merenung sendirian di restoran bergaya retro di Cikini, Vietopia. Menanti magrib tiba dengan semangkuk pho Vietnam, nasi goreng nanas, atau ayam bumbu sereh khas negeri itu.

Tapi impian menyantap makanan enak di dua restoran itu tiba-tiba surut. Entah mengapa, aku terus meluncurkan mobil melewati restoran itu dan memilih berlabuh di depan Masjid Cut Mutia, Menteng. Jauh-jauh dari Velbak, entah apa yang membelokkan aku menuju masjid ini.

Di sana, duduk dan memandangi para pemulung yang duduk rapi menunggu pembagian jatah buka puasa di masjid adalah hal yang menghiburku. Seperti ada magnet pada poemandangan yang biasa, sebenarnya. Tapi hatiku tersentuh. Apalagi beberapa menit kemudian saaat mereka berebut jatah makanan. “Jangan menyerobot.” “Aku sudah antre dari tadi,” kata seorang ibu yang menggendong anaknya yang ingusan.

Hanya beberapa menit, jatah makanan yang dibagikan ludes. Beberapa orang kebingungan mencari panitia pembagi makanan. Rasa kecewa, marah, seperti teraduk dan terlukis di wajah mereka. Belum sempat kemarahan itu terwujud, azan berkumandang. Orang-orang yang malang itu bubar. Salah seorang di antarannya, seorang lelaki tua berjalan gontai karena tak dapat jatah makan.

“Payah nih panitia,” katanya sambil mengempaskan pantatnya di sampingku. Lelaki tua dengan peci lusuh, dan baju koko yang tak putih lagi. “Saya kan wudhu dulu, malah saya nggak kebagian makanan buka puasa.”

“Duh, Tuhan, begitu susahnya mereka berbuka puasa,” kataku dalam hati.

“Kemarin, di Masjid Bimantara jauh lebih tertib,” lelaki tua itu menceritakan rekor “berburu” buka puasanya.

Mulutku kelu. Sedih rasanya melihat orang tertib, rajin salat, tapi malah tak kebagian makanan buka puasa. Aku pun menyodorkan makanan berbukaku, tahu goreng, singkong goreng yang cuma tiga potong. “Habiskan saja Pak,”

Rasanya aku tak sanggup melanjutkan gigitan tahu gorengku. Rasanya , sementara aku juga tak akan “sanggup” berbuka sedikit enak di mal-mal wangi seperti kebiasaanku dulu…. membayangkan lelaki itu…

Life is Snowball

life is a snowball, the important thing is finding wet snow and a really long hill

– Warren Buffet

Seniman Hebat

“Good artists copy, great artists steal.” Begitulah kata pelukis dan pematung asal Andalusia, Spanyol, Pablo Picasso. Ungkapan itu mungkin terkesan naif, tapi begitulah yang kerap terjadi di dunia ini. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa banyak seniman atau penemu hebat lahir karena “mencuri” ide. Persis seperti yang dikatakan Picasso.

Kehebatan temuan Steve Jobs dan Bill Gates adalah contoh kecil tentang berlakunya “hukum” Picasso itu. Lihatlah Steve Jobs, bos Apple Inc, saat dia masih muda. Dia baru saja mencukur jenggot lebatnya saat komputer Apple pertama mulai diminati orang. Tapi resep cukur jenggot itu tak langsung melambungkan namanya, juga perusahaannya. Apple tetap secuil kuku dibandingkan dengan IBM, yang dikenal sebagai Raksasa Biru.

Penjualannya baru benar-benar mengguncang daratan Amerika Serikat setelah Steve Jobs dan timnya melahirkan komputer dengan tampilan grafis yang memukau, saat itu. Ya, Macintosh-lah yang telah menuliskan sejarah kehebatan Jobs. Saat IBM atau Altair, penemu komputer meja pertama yang menggandeng Microsoft, menyodorkan tampilan melulu teks yang membosankan, Apple muncul dengan desain grafis cantik. Tinggal klik dengan mouse, semua urusan beres.

Tampilan grafis dan tetikus (mouse) itulah temuan terhebat pertama Jobs. Tapi, tunggu dulu, dua temuan terhebat ini ternyata bukan temuan orisinal Steve Jobs dan gengnya. Mereka menjiplaknya atau mencurinya dari Xerox yang tak memanfaatkan temuan itu. Begitulah menurut film Pirates of Silicon Valley. Film ini diangkat dari buku Fire in the Valley: The Making of the Personal Computer yang ditulis oleh Paul Freiberger dan Michael Swaine.

Begini kisahnya: di sebuah siang, saat matahari menyapa langit San Francisco yang kerap membikin orang menggigil, Jobs dan teman karibnya, Steve Wozniak, serta beberapa programmer Apple Inc duduk bersama. Otak-otak mereka sedang beradu ide untuk melentingkan penjualan komputer dengan sebuah temuan baru. Seperti biasa, Jobs meniupkan dogmanya. “Kita harus menulis ulang sejarah manusia dengan temuan kita.”

Lalu sebuah ide brilian–dan sedikit nakal–menyambar otak mereka. “Mengapa kita tak mengambil ide tampilan grafis Xerox saja,” kata salah satu dari mereka. Lalu mereka pun meluncur ke pusat riset Xerox dan mengantongi temuan yang tak dilirik Xerox itu dengan harga sangat murah.

“Good artists copy, great artists steal,” kata Jobs menirukan ucapan Picasso. Sejak itulah kejayaan komputer Apple dengan cita rasa seni tinggi berkibar-kibar.

Bill Gates dan Microsoft saat itu masih remah-remah. Mereka tak bisa mengalahkan nilai seni–serta uang–Apple Inc. Keadaan itu baru berbalik setelah Bill Gates “mencuri” ide Apple tentang tampilan grafis dengan melahirkan Windows. Era Windows adalah titik kebangkitan Microsoft.

Kini orang terkesima kepada seniman hebat yang juga “pencuri”. Ia adalah Cina. Negeri ini kerap dicemooh sebagai tukang jiplak. Apa saja ditiru, dari yang kecil-kecil, seperti peniti dan jepit rambut, hingga kacamata Oakley, tas Gucci, dan mobil. Tapi lihat apa yang dilakukan Cina. Kini mereka menjadi eksportir terbesar di dunia. Juli lalu, menurut Guardian, nilai ekspor Cina mencatat rekor tertinggi, naik 16,8 persen dibanding tahun sebelumnya.

Apa kita harus jadi “pencuri” agar jadi seniman hebat?

Older Posts »